Friday, May 30, 2008

Weser at Night

Just wanna share the view I enjoyed on my way to work. The beauty of Weser at night.

click photo for better viewing

---------
Photo taken by: Sefa Firdaus
Camera: Canon EOS 400D
Lens: Kit Lens EF-S 18-55mm (UV filter attached)
Shooting Mode: Manual Exposure
AF Mode: Auto Focusing
Focal Length: 18.0 mm
Exposure Time: 0.300 s (1/3)
Aperture: f/5.0
ISO: 800 - Flash off - Handheld
Shooting Date: 11.05.2008
Editing: None
Location: Weser by Bgm-Smidt-Brücke, Bremen, Germany

Read More...

Wednesday, May 21, 2008

White Balance for Sunset

white balance - shade
autobracketing exposure -1


Sebagai seorang pemula, senang rasanya mendapatkan ilmu baru dari para senior didunia fotografi. Itu yang saya alami disaat berburu cantiknya suasana matahari tenggelam dimusim semi yang cerah (sunsetnya nyaris jam 8 malam loh). Waktu lagi asik meriviu hasil foto yg baru saya ambil, seorang senior yang foto-fotonya keren-keren itu, ikutan mengintip. Beliau bilang hasilnya bagus, dan bertanya setting white balance yg saya gunakan. Belaiupun lalu menyarankan saya untuk mencoba memakai setting shade biar bisa mendapatkan foto sunset dengan nuansa orange.

Thanks a lot suhu ;)

white balance - auto
autobracketing exposure -1


white balance - shade
autobracketing exposure minus -1


*click photo for better viewing


Lihat foto lainnya di: Bremen: Sunset in Werdersee

---------
All photos taken by: Sefa Firdaus
Camera: Canon EOS 400D
Lens: Kit Lens EF-S 18-55mm (UV filter attached)
Shooting Mode: Manual Exposure
AF Mode: Auto Focusing
Shooting Date: 11.05.2008
Editing: Cropping only on the first picture
Location: Werdersee, Bremen, Germany

Read More...

Saturday, May 17, 2008

Stockholm: Nyasar, Makan Gratis dan Jatuh Cinta

Dari Kopenhagen, saya kembali ke Stockholm yang merupakan starting and ending point saya dalam melakukan tour singkat Skandinavia Agustus 2007 kemarin. Seperti yang saya ceritakan disini bahwa traveling alone itu bikin banyak temen, saya kembali mendapatkan teman baru yang menjadi teman seperjalanan dari Kopenhagen ke Stockholm (baca: satu bus). Teman baru itu adalah seorang perempuan warga negara Malaysia yg sedang menjalankan liburan tahunannya keliling Eropa. She traveled as backpacker, pokoke gayanya bener-bener backpacker sejati, komplit dengan backpack gede yang lumayan berat (saya kebagian gotong-gotong waktu dia nyari hostel di Stockholm, sementara hostel saya belum buka.. trus pas lagi nungguin dia, saya kebelet.. walhasil jadi deh gotong sana-sini cari café yg buka buat numpang kebelakang).

Read more...


Akhirnya setelah hostel buka dan saya udah ganti baju plus tentunya bersih-bersih (gilingan, gak boleh mandi loh.. soalnya saya belum waktunya check-in), saya mengajak teman saya tsb untuk menghadiri perayaan Tujuhbelasan (baca: makan enak dan gratis) di Wisma Indonesia. Ya ampun, ternyata jauhhhhh ya... mana kami sempat nyasar lagi gara-gara metro (bukan mini loh) yg kami tumpangi ternyata punya dua tujuan (jadi kami harus teliti membaca tujuannya). Tapi kemudahan kami dapatkan selagi menunggu bus (setelah naik metro yg benar) yg akan membawa kami ke Wisma Indonesia, ada orang Indonesia yg juga sedang menunggu disana. Aman, kata saya dalam hati... at least, kemungkinan nyasar menjadi 0,00001 (alias kecil banget - secara itu cowok udah sering kesana). Disaat asik menunggu, eh kok ya ada mobil yang berhenti dan memanggil cowok tsb menawarkan tumpangan ke Wisma Indonesia... jadilah kamipun diangkut juga (hihihi, kebayang gak sih... diangkut dari halte, jadi inget halte isi depan Labschool Rawamagun).

Singkat cerita, jadilah saya makan siang super mewah pake nasi kuning, empal daging, teri kacang, telor dadar, bawang goreng, kerupuk dan sambel (sayang, ayam gorengnya udah habis, ihiks). Waaaaaa.... alhamdulillah, senangnya.... perut kenyang tanpa bayar :D

Di Wisma Indonesia yg letaknya diperumahan elit di Stockholm dengan view laut yg indah banget, saya bertemu dengan teman-teman sesama multiplier dan satu teman friendster. Bertemu teman-teman didunia maya secara langsung adalah hal yg paling menyenangkan, itulah makanya cita-cita saya adalah mengunjungi semua teman-teman maya saya yg tersebar diseluruh dunia. Siapa tahu one day pohon uang yang saya tanam dibelakang rumah tumbuh dengan subur, hehehe.


Berhubung besoknya saya sudah harus kembali ke Jerman tercintah, sayapun pamitan untuk melanjutkan cuci mata keliling kota Stockholm. Lagi-lagi saya sangat beruntung, karena seorang teman yg tinggal di Swedia juga ingin ke pusat kota, jadilah kami nebeng mobilnya. Benar-benar deh saya merasakan perjalanan Skandinavia kemarin itu penuh dengan kemudahan dan kebahagian, alhamdulillah.

Punya teman seperjalanan memang menyenangkan, tapi bila berseberangan minat, itu yang menjadi masalah. Perempuan Malaysia teman seperjalanan dari Kopenhagen ini rupanya bosan melihat saya yang asik jeprat-jepret dengan poket digicam saya, sehingga waktu kami ada di Royal Palace Stockholm dan saya tenggelam bersama digicam saya, beliaupun menghilang. Setelah capek mencari keliling istana yang gedeeeeeeeeeee itu, sayapun menyerah dan memutuskan utk solo karir lagi. Frankly, saya merasa lebih bahagia solo karir, karena mau memencet shutter sampai telunjuk cantengan juga gak ada yg protes.

Cuma ada dua kata yang paling pantas utk menggambarkan kota Stockholm ini, "Cantik dan Romantis". Bener-bener deh, saya jatuh cinta dengan kota ini dan selalu bergumam dalam hati that I wish my betterhalf were with me.

Saya habiskan waktu hingga menjelang malam dimusim panas yg lumayan berangin di Stockholm sambil tak henti mengabadikan keindahan kota tsb. Sungguh sulit buat saya menjalin kata-kata untuk menggambarkan betapa cantik kota ini, tapi saya senang that my pocket digicam could show you.

Semoga one day, saya bisa kembali kesini bersama cintaku, amin. Saya benar-benar jatuh cinta pada kota ini (walaupun mahal pisan, hihihihi).

Bersambung...

---------
Photos: (all taken by me)
- Taman Royal Palace Stockholm.
- 62 tahun kemerdekaan RI, Wisma Indonesia, Stockholm.
- Rumah warna-warni di Gamla Stan (mirip sama rumah di Amsterdam dan Cologne).
- Grand Hotel yang ngetop itu.
- Cantiknya Stockholm.

Foto-foto lain bisa dilihat di: Scandinavia: Day 4 - Stockholm.

Read More...

Wednesday, May 14, 2008

Orloj Astronomical Clock


*click photo for better viewing

Selain Charles Bridge yang terkenal itu, Orloj Astronomical Clock adalah salah satu spot penting yang wajib dikunjungi (dan tentunya difoto) bila kita ke Praha. Buat bisa motret dengan damai disini tanpa melibatkan kepala turis lain benar-benar diperlukan perjuangan keras, apalagi kalau lensanya tidak mendukung *jeritan hati*.

What is the Orloj ?
Basically, the Orloj is a clock with a history line better than a Grisham novel plot, (see below).
It does astronomical 'things' and also entertains about every tourist who comes to Prague for at least three minutes.

The famous saying "See Naples and die" can be used in the case of the Orloj but we suggest in modifying it to "Don't die before you see the Orloj ! ". (Orloj.com)

The Prague Astronomical Clock or Prague Orloj (Czech: Pražský orloj, [praʒski: ɔrlɔi]) is a medieval astronomical clock located in Prague, the capital of the Czech Republic, at 50°5′13.23″N, 14°25′15.30″E. The Orloj is mounted on the southern wall of Old Town City Hall in the Old Town Square and is a popular tourist attraction.

The Orloj is composed of three main components: the astronomical dial, representing the position of the Sun and Moon in the sky and displaying various astronomical details; "The Walk of the Apostles", a clockwork hourly show of figures of the Apostles and other moving sculptures; and a calendar dial with medallions representing the months. (Wikipedia)

---------
Picture taken at Staroměstské náměstí, Prague, Czech Republic
Sunday, April 13th, 2008

Read More...

Tuesday, May 13, 2008

Satu yang Tak Bisa Lepas

click photo for better viewing

Kusimpan masa demi masa

Tak mudah 'tuk terlupa

Saat kau masih disisi
Hingga saat kau dengannya

Kadang ku menangis
Reza, Satu yang Tak Bisa Lepas

Lagu diatas sempat menemani kerja saya malam hari hingga subuh tadi,
mengingatkan saya akan seorang teman dan hutang saya padanya
ya.. saya janji untuk menuliskan kisah hidupnya disini

saya masih ingat, hari itu.. kami sama-sama kelelahan
penat dan jenuh akan rutinitas hidup di negeri dongeng ini
lalu mulailah terurai satu demi satu rahasia hati
ditemani genangan air mata dipipinya yang merah

perempuan itu menangis dihadapan saya
menumpahkan sejuta rindu akan laki-laki yang begitu mencintainya
yang membawanya jauh dari tanah air
untuk bersama mendampinginya dinegeri dongeng ini

saya tidak bisa berkata, terdiam tak mengerti
betapa cinta itu begitu rapuh, batin saya
bertahun bersama dalam cinta yang menyala
namun sekarang nyala itu redup, seperti lampu didapur saya
yang kemudian akhirnya padam

aku masih mencintainya, kata perempuan itu
aku tak pernah bisa melupakannya, isaknya sendu
betapa indah cinta yang dulu dia berikan
namun sekarang hilang, musnah
air matanya seakan tak berhenti

saya masih juga tidak bisa berkata, hati saya mulai menjerit
saya tidak bisa melihatnya menangis..
dan air mata ini pun memohon untuk mengalir

saya usap tangannya dengan lembut, dan menatap matanya
saya tidak berkata apapun, namun saya percaya dia mengerti
bahwa saya ada disisinya

dulu semua begitu indah, bunga dan hadiah tak pernah lepas
hadir disaat mereka melepaskan lelah diakhir pekan
ciuman sayang dan pelukan hangat selalu hadir
membuat negeri dongeng menjadi negeri impian
dua manusia yang berbeda kebudayaan

cinta yang menyatukan mereka
cinta yang membawanya jauh dari tanah air tercinta
cinta yang selalu menyapanya lewat sinar matahari pagi
dan mengantar tidurnya dalam sinar rembulan
cinta yang sangat indah
cinta yang memberikan nafas bagi kehidupannya

aku masih mencintainya, katanya lagi
aku rindu pelukannya disepanjang tidurku
isaknya semakin menjadi

aku ingin kembali padanya, ucapnya terbata
menjadi istrinya adalah masa terindah dalam hidupku
tapi itu semua hanyalah mimpi
surat cerai itu sudah ada ditanganku
dan ada perempuan lain sekarang dalam pelukannya

saya semakin tak bisa berkata, hanya memeluknya
dan membiarkan air mata itu membasahi baju saya
sakit, pasti sakit.. saya hanya tau itu
tapi tak mampu merasakan

Satu yang tak bisa lepas
Bawalah kembali jiwa yang luka

Dan perasaan yang lemah ini

Menyentuh sendiriku

Reza, Satu yang Tak Bisa Lepas

---------
Picture taken at Werdersee, Bremen, Germany
Sunday, May 11th, 2008

Pernah dimuat disini.

Read More...

Kölner Dom



*click photo for better viewing

The Cologne Cathedral (German: Kölner Dom, officially Hohe Domkirche St. Peter und Maria) is the seat of the Archbishop of Cologne, under the administration of the Roman Catholic Church and is renowned as a monument of Christianity, of Gothic architecture and of the faith and perseverance of the people of the city in which it stands. It is dedicated to Saint Peter and the Blessed Virgin Mary.

The cathedral is a World Heritage Site, being one of the best-known architectural monuments in Germany, and Cologne's most famous landmark, described by UNESCO as an "exceptional work of human creative genius".[1] Cologne Cathedral is one of the world's largest churches, being the largest Gothic church in Northern Europe. For four years, 1880-84, it was the tallest structure in the world, until the completion of the Washington Monument followed by the Eiffel Tower. It has the second-tallest church spires, only surpassed by the single spire of Ulm Cathedral, completed ten years later in 1890. Because of its enormous twin spires, it also presents the largest façade of any church in the world. (Wikipedia)

Tiap ke Köln (Cologne), rasanya gak pernah bosen ngambil foto Kölner Dom (Cologne Cathedral) ini. Sayang, belum sempet mengabadikannya diwaktu malam. Next time, semoga!

---------
Picture taken in Köln, Germany
Saturday, February 16th, 2008

Read More...

Thursday, May 8, 2008

Prague Castle

at midday

at night

*click photo for better viewing


Prague Castle
(Czech: Pražský hrad) is a castle in Prague where the Czech kings, Holy Roman Emperors and presidents of Czechoslovakia and the Czech Republic have had their offices. The crown jewels of the Bohemian Kingdom are kept here. Prague Castle is one of the biggest castles in the world (according to Guinness Book of Records the biggest ancient castle [1]) at about 570 meters in length and an average of about 130 meters wide. (Wikipedia)

To photograph this castle at night was my dream. Gottseidank that it came true, thanks to my kit lens and tripod.

Prague Castle is indeed beautiful, by day or night. Wish that I'll come back with my dream lens *amen*

---------
Picture taken from National Theater, Prague, Czech Republic.
Monday, April 14th, 2008

More photos of Prague:
Praha: Hari Pertama - Kawan Baru di Kota yang Cantik
Praha: Hari Kedua - Motret Sampai Pegel
Praha: Hari Kedua - Menjadi Narsis

Read More...

Wednesday, May 7, 2008

Autobracketing

autoexposure bracketing: -1
1/400 at f/9.0 - ISO 100 - Flash Off - Handheld - Cropped

autoexposure bracketing: 0
1/200 at f/9.0 - ISO 100 - Flash Off - Handheld - Cropped

autoexposure bracketing: +1
1/100 at f/9.0 - ISO 100 - Flash Off - Handheld - Cropped

*click photo for better viewing


In photography,
bracketing is the general technique of taking several shots of the same subject using different or the same camera settings. Bracketing is useful and often recommended in situations that make it difficult to obtain a satisfactory image with a single shot, especially when a small variation in exposure parameters has a comparatively large effect on the resulting image. (Wikipedia)

Autobrakecting is a feature of some more advanced cameras, whether film or digital cameras, particularly single-lens reflex cameras, where the camera will take several successive shots (usually three) with slightly different settings. (Wikipedia)

Read more...


Sekarang ini saya lagi lucu-lucunya belajar motret, browsing sana-sini tentang photography dan tentunya nanya sama teman-teman photographer yang baik hati. Saya punya kamera dslr itu bulan Oktober 2007, tapi baru bulan Januari 2008 saya mulai berani motret pake manual (biasanya pake AV). Nah sejak berani pake manual itu, saya jadi sering ngutak-ngatik fungsi yg ada dikamera saya, salah satunya adalah autobracketing ini.

After reading it, saya jadi semangat utk motret sunset... ya kebetulan saya memang belum pernah sih motret sunset seumur hidup. Alhamdulillah, akhirnya kejadian juga motret sunset dengan mengaplikasikan fasilitas autobracketing yg disediakan oleh kamera saya.
Hasilnya adalah ketiga foto diatas dan juga head bannernya negeri dongeng ini. Bagaimana? Tidak memalukan bukan for a beginner like me ;)

Pengen liat hasil foto-foto sunset saya yang pertama? Sok atuh mampir ke: Autobracketing Sunset in Bremerhaven.

---------
Read Auto Bracketing article from Vincent Bockaert: Auto Bracketing - www.dpreview.com -

All photos taken by: Sefa Firdaus
Camera: Canon EOS 400D
Lens: Kit Lens EF-S 18-55mm (UV filter attached)
Shooting Mode: Manual Exposure
AF Mode: Manual Focusing
Shooting Date: 15.02.2008
Editing: Cropping only
Location: am Deich, Bremerhaven, Germany

Read More...

Monday, May 5, 2008

Tulip

click photo for better viewing

Setelah menikmati salju dimusim semi, akhirnya musim semi yang ditunggu datang juga. Sudah seminggu terakhir ini cuaca cerah yang merupakan saat terbaik untuk keluar rumah menikmati hangatnya matahari dan indahnya warna-warni bunga.

click photo for better viewing

Tulipa
commonly called Tulip is a genus of about 100 species of bulbous flowering plants in the family Liliaceae. The native range of the species includes southern Europe, north Africa, and Asia from Anatolia and Iran in the east to northeast of China. The centre of diversity of the genus is in the Pamir and Hindu Kush mountains and the steppes of Kazakhstan. A number of species and many hybrid cultivars are grown in gardens, used as pot plants or as fresh cut flowers. (Wikipedia)

---------
Pictures taken at the park in Doventor, Bremen, Germany
Monday, April 28th, 2008

Read More...

Thursday, May 1, 2008

Doha: Delayed Membawa Nikmat

11 Maret 2006, hari itu saya masak sate padang perdana untuk acara ulang tahunnya ayah teman saya (pssttt... sate padang perdana tsb dipuji loh oleh ayah dan ibunya teman saya tsb dan tentunya sama teman-teman lain yg makan *pede mode: default*). Orang tua teman saya ini tinggalnya di Doha, Qatar dan akan kembali kesana keesokan harinya. Mereka yang tahu bahwa saya akan transit di Doha dalam perjalanan pulang ke Indonesia dengan Qatar Airways menawarkan diri untuk menemani jalan-jalan bila transit lebih dari 8 jam. Sayang sekali, saya hanya akan transit selama 1 jam, padahal sptnya asik kalau bisa mampir di Doha.

Read more...

13 Maret 2006, pesawat Qatar Airways yang seharusnya take off ternyata harus menunggu karena ada kerusakan. Saya langsung gelisah begitu pesawat tertunda terbang selama 30 menit, bukan apa-apa... kalau begini caranya, saya bakalan ketinggalan pesawat ke Singapore. Pramugari yang saya tanya bilang begini:

"Biasanya kalau telat 1 jam sih masih ditungguin kok"

Waks! Apa!! Biasanya???!!! Artinya memang sering dong ya ini pesawat delay, batin saya.

Akhirnya 4 jam saya harus menunggu didalam pesawat di Frankfurt (M) International Airport. Pesawat baru boleh terbang setelah mendapat persetujuan dari teknisi bandara. Artinya: saya ketinggalan pesawat ke Singapore!
Bai bai :(


Sampai di Doha Airport, saya dan beberapa orang penumpang transit yang lain sudah ditunggu oleh Customer Service-nya QA. Setelah mereka memberikan saya dokumen untuk akomodasi dan ijin untuk bisa masuk Qatar, saya-pun mengantri untuk mendapatkan visa. Alhamdulillah, dapat visa walaupun hanya 24 jam dan mereka men-cap visa tsb dihalaman tengah. Duh! Passpor baru kaliiiiiiii, wakakakaka.

Kasihan sebetulnya jadi orang Indonesia. Kenapa? Karena dinegara-negara Timur Tengah seperti Qatar ini, tatapan mata merendahkan ah-kamu-tekawe itu sering banget kita dapatkan. Termasuk waktu saya apply visa 24 jam tsb. Kampret!
Dua petugas laki-laki Arab didepan saya asik membolak-balik passport saya dan memandang saya dengan pandangan gimana-gitu-minta-ditampar plus kasak-kusuk dalam bahasanya. Langsung dong saya mendidih, tapi tetap elegan tentunya, hihihihi.

"Ana afham Arabi" (I understand Arabic)

Duar!!! Muka mereka langsung kaget gitu, apalagi waktu saya bilang bahwa kekasih hati saya orang Arab. Trus berhubung saya memang baru bisa ngomong Arab yang standar, saya sambung pake Jerman. Eh mereka gak ngerti, ya udah pake bahasa Inggris deh.

Saya memang selalu begitu ngomong pake bahasa Jerman, bukan sok atau menganggap rendah para pahlawan devisa (yang katanya pahlawan tapi tidak pernah dihargai oleh pemerintahnya apalagi diberi tanda jasa) sehingga tidak mau dianggap sbg salah satu dari mereka, tapi semata-mata biar orang-orang asing tsb tahu, bahwa orang Indonesia itu bukan cuma para te-ka-we atau te-ka-i. Buktinya sikap mereka berubah setelah tahu saya ini adalah mahasiswa di Jerman dan pastinya ngeri juga karena tahu bahwa suami saya (waktu itu masih pacar) adalah orang Irak, sehingga mereka memilih utk damai, wakakakaka.

Alhamdulillah, keberuntungan berpihak pada saya, karena saya mendapat kamar dengan tipe Junior Suite di Grand Regency Doha dengan rate 1800R Qatar (650€, kurs hari itu). Seneng banget.. at least penderitaan mengatur ulang jadwal di Indonesia terobati dengan fasilitas hotel yang luar biasa. Langsung dong foto-foto gak jelas *norak*

Waktu lagi asik leyeh-leyeh, saya teringat tawaran dari orang tuanya teman saya. Langsung saya telpon untuk menagih janji. Sayangnya beliau sedang kena flu jadi tidak bisa menemani saya jalan-jalan, tapi berhubung beliau sudah janji... diutuslah temannya untuk menggantikan beliau.

Temannya ibu teman saya itu datang bersama putrinya yang cantik. Awalnya mereka bingung melihat saya hanya memakai kaus saja, karena masih musim dingin disana dengan suhu 18°C. Tapi akhirnya mereka tertawa maklum, mengingat saya datang dari negara dimana suhu 18°C adalah foya-foya. Hangat!
Merekapun mengajak saya berkeliling dan mampir ke City Center Doha (mall gitu deh) dan mentraktir saya makan di KFC (saya memang menolak untuk makan makanan Arab, porsinya itu loh... lagian saya bakalan makan malam di hotel, jadi kalo skg kenyang.. rugi dong, hihihi). Mereka juga sempat mengajak saya menikmati indahnya pantai di Doha (bukan dipantainya persis sih, tapi pemandangannya keren). Saya sempat memotret maskot Asian Games 2006 yang namanya Orry (a Qatary Oryx).

Doha menurut saya menarik untuk dijadikan tempat berlibur, kotanya cantik apalagi waktu saya kesana tahun 2006 lalu tsb mereka sedang membangun. Hanya tidak disarankan untuk berlibur disaat musim panas, karena waktu saya kembali dari Indonesia menuju Jerman, saya diterpa oleh badai panas dengan suhu 43°C.

Passport saya kembali mengalami menyetempelan (maksudnya distempel aka dicap) dari belakang oleh petugas imigrasi dibandara. Berhubung passport negara-negara Arab itu dibukanya dari kanan, jadi dengan sukses ibu-ibu petugasnya mencap passport tsb dari bagian belakang. Ihiks! Itu paspor baru ibuuuuuuuuuu, wakakakakaka.

Oya, kalau melakukan perjalanan jauh dengan pesawat dan harus transit, jangan lupa bawa pakaian ekstra (including pakaian dalam), handuk kecil dan sikat gigi didalam cabin luggage. Just in case delay dan harus menginap, kita sudah siap. Cairan dan sejenisnya jangan lupa ditaruh dalam plastik transparan, dan ingat... satu botolnya tidak boleh lebih dari 100ml dan total yg diijinkan adalah 1liter.
Ingat ya: 1 kemasan itu 100ml, jadi kalo bawa perfume 150ml, alamat dibuang!

----------
Photos: (all taken by me)
- Gedung-gedung tinggi sepanjang pantai.
- Interior City Center Doha.
- Kamar tidur saya di Grand Regency Doha.
- Orry, mascot Asian Games 2006

Foto-foto lain bisa dilihat di: Doha - Qatar, Maret 2006

Read More...

Ampelmännchen

click photo for better viewing

Bagaimana caranya mengetahui bahwa kita berada dibekas daerah Jerman Timur bila sedang berkunjung ke Berlin? Jawabannya adalah lampu lalu lintas seperti foto diatas yang bernama Ampelmännchen (adalah lampu lalu lintas yang hanya terdapat dibekas daerah German Democratic Republic (GDR)).

Ampelmännchen (German: little traffic light man) is the symbolic person shown on traffic lights at pedestrian crossings in the former German Democratic Republic (GDR - East Germany). The red Ampelmännchen extends his arms to signal "stop," and the green Ampelmännchen confidently strides ahead to signal "go." (Wikipedia)

---------
Picture taken at Berlin Hbf (Main Station), Berlin, Germany
Sunday, March 23rd, 2008

It was my entry for: Picture Perfect Friday - Safe.
More photos of Berlin, visit this album: Berlin: Loosing My Mood

Read More...