Wednesday, April 30, 2008

Daily Photo vs Cerita Foto

Awalnya sih pengen banget bikin daily photo, tapi bukan daily photo yg khusus utk satu kota aja... melainkan daily photo dari mana saja. Niatnya sih biar rajin motret, jadi tiap hari keluar rumah. Eh.. ternyata kerjaan lagi banyak, jadi deh saya kerja terus sampai hari Minggu.

Ya udah, daily photonya diganti aja deh sama Cerita Foto. Soalnya kalo cerita foto-kan bisa aja foto yg sudah saya ambil sebelumnya, bukan foto yang baru.

Read More...

Monday, April 28, 2008

Mühle am Wall

click photo for better viewing

Kincir angin yang terletak di am Wall ini didirikan tahun 1699 oleh Moritz Meier disepanjang sungai yang bermuara di Weser. Awalnya terdapat 6 buah kincir angin didaerah tsb, namun sekarang ini hanya satu yang tersisa.

Tahun 1832, kincir angin ini terbakar habis dan baru pada tahun 1900 didirikan kembali. Tahun 1998, kincir angin ini diresmikan sebagai restoran, bistro dan kafe dengan nama Kaffeemühle.

Seorang teman (orang Indonesia pastinya) pernah berfoto didepan Mühle am Wall ini dan menuliskan caption "Amsterdam" dibawahnya (padahal waktu itu beliau belum pernah ke Amsterdam) and his friends in Indonesia bought it! They believed that he was in Amsterdam. Rasanya selama saya ke Amsterdam, saya tidak melihat ada kincir angin disana :D

---------
Picture taken in Bremen, Germany
Monday, April 28th, 2008

Read More...

BSU

click photo for better viewing

atau Bremen Service Universität itu adalah tempat dimana para student (mahasiswa) yang terdaftar dalam universitas dinegara bagian Bremen dan tinggal di Bremen mendaftarkan diri, memperpanjang visa dan urusan lain-lain yang berhubungan dengan administrasi kota.

Biasanya nih, yang namanya perpanjangan visa itu seperti pergi sidang, deg-degan dan bikin nervous berat. Gak segampang yang dibayangkan orang-orang atau yang dikatakan orang-orang dulu sebelum saya sampai negeri dongeng ini. Nah, keberadaan BSU ini membantu banget, karena urusan lancar, gak pake deg-degan. Tapi.. ada tapinya nih, untuk urusan perpanjangan visa, hanya mahasiswa yang kuliah di Uni Bremen atau Hochschule Bremen, sedangkan mahasiswa Hochschule Bremerhaven tidak bisa menikmati fasilitas tsb. Mereka tetap harus ke kantor imigrasi yang artinya pake deg-degan dan waktu menunggu.

---------
Picture taken in Bremen, Germany
Monday, April 28th, 2008

Read More...

Saturday, April 26, 2008

Dan Si Cantikpun Menangis

Tulisan ini pernah dimuat disini.

Weekend kemarin saya punya pengalaman yang menyenangkan.

Ceritanya begini, dalam perjalanan pulang sehabis membanting tulang dan lari-lari mengejar kereta sambil membawa sekardus Indomie (ternyata keretanya telat 25 menit), saya duduk terkapar tidak berdaya didalam kereta Bremen-Bremerhaven. Karena keterlambatan, jadilah kereta yang berhenti ditiap stasiun itu penuh sehingga saya harus berbagi tempat duduk dengan orang lain. Setelah dua halte, dua orang lelaki berumur yang duduk bersama saya turun dari kereta, tapi baru saja saya ingin menarik nafas lega dan mulai mengatur posisi untuk mencoba tidur, datanglah penumpang baru. Sepasang suami istri dan bayi kecil mereka memutuskan untuk duduk bersama saya. Sang suami memilih untuk duduk disebelah saya, sementara si istri dan si kecil duduk dihadapan saya.

Read more...

Sebenarnya saya sih bisa saja untuk mencoba tidur, tapi si kecil bermata kelabu sangat menggoda perhatiaan saya. Namanya Alisa (orang tuanya memanggil begitu), dia tidak melepaskan pandangannya ke wajah saya bahkan mencoba untuk berbicara kepada saya (tentunya dengan bahasa bayi yang sangat lucu). Saya sih ingin sekali menegur dan mengajaknya bermain, tapi melihat raut wajah si ibu yang terlihat tidak begitu ramah, saya mengurungkan niat dan mencoba untuk tidur (demi melupakan mata cantik dari bayi yang lucu tersebut). Oya sebelum lupa, Alisa bukanlah bayi yang masih kecil, tapi batita.. saya kira umurnya sudah satu tahun.

Usaha saya untuk berpura-pura acuh terhadap si cantik didepan saya sia-sia, karena Alisa memanggil-manggil saya dengan suaranya yang lucu dan bahasa yang tidak ada dikamus manapun. Dia memajukan badannya dan menyorongkan jari-nya seolah ingin menyentuh saya dan berkata:

"Tante, jangan tidur dong... aku ingin bercerita".

Sayapun membatalkan niat untuk tidur dan mulai memberikan perhatian penuh pada Alisa yang sibuk mengoceh dengan mimik wajah yang sangat menggemaskan. Sayapun menanggapi ceritanya dengan berkata-kata tanpa suara dan membuat mimik wajah yang antusias sambil terkadang mengedipkan mata menggodanya. Alisa selalu mengikuti gerakan saya sambil terus bercerita dalam bahasanya. Waktu saya miringkan kepala saya ke kanan, dia ikut memiringkan kepalanya ke kiri (searah dengan saya). Ugh! sangat menggemaskan. Ah, andai saja orang tuanya ramah... ingin rasanya memeluk Alisa dalam pangkuan saya sambil mendengarkan ceritanya. Sedihnya cerita Alisa harus terputus karena orang tuanya memutuskan untuk pindah ke bangku lain.

Tak lama setelah mereka pindah, keretapun memasuki stasiun Bremerhaven. Sayapun bersiap untuk turun dan berjalan menuju pintu gerbong. Waktu saya berjalan melintasi bangku dimana Alisa dan orang tuanya berada, Alisa langsung berteriak melihat saya, dan kembali mengoceh sambil matanya mengiringi kepergian saya. Dari balik kaca pintu gerbong, saya berkomunikasi dengan Alisa dalam mimik wajah dan lambaian tangan. Alisa membalas lambaian tangan saya dan tertawa dengan bahagianya. Namun tawanya terhenti waktu kereta berhenti dan saya melangkah turun dari kereta, yang saya dengar hanyalah tangisan kerasnya.

Ahhh... ingin rasanya saya kembali untuk menghapus air mata dari wajah cantiknya dan untuk kemudian memeluknya sambil berkata:

"Terimakasih sayang untuk cerita yang indah".

Regional Bahn Bremen - Bremerhaven, 18.11.07

Foto koleksi pribadi (taken by me): Bidadari-bidadari kecilku (Ai, Abe, Sarah, Dinda) - Ice World Indonesia 2006.

Read More...

Tuesday, April 22, 2008

Kopenhagen: Little Mermaid, Boat Tour dan Mencari Harta Harun

My one day trip in Copenhagen aka København was rock! Seruuuuu pake bangets!
Bangun tidur subuh, saya yang seneng gitu... soalnya untuk pertamakalinya saya bakalan merasakan lewat jembatan penyebrangan yang melintasi laut. Catet ya, laut! Iya.. saya lewat Oresund Bridge, jembatan yang menghubungkan kota Malmö-Swedia dan København-Denmark. Huaaaaaaa... tau sendiri dong, saya pan takut laut... eh ini harus lewat jembatan yang bawahnya laut. Ya sedangkal-dangkalnya, tetep aja kali judulnya laut. Tapi tetep loh, saya asik motret... walaupun sambil motret sambil berdoa, hihihi.

Read more...


Sampai di Kopenhagen, saya langsung sok tau nolongin orang yang pengen ke stasiun. Jadi itu orang ketinggalan bus untuk ke Hamburg, sementara beliau harus menyambung perjalanan ke Paris dari Hamburg, jadi supaya cepat... alternatifnya adalah naik kereta. Beliau meminta saya menunjukkan jalan ke stasiun, saya yang juga orang baru disana dengan pedenya mengiyakan. Gak terlalu susah juga kok nyari stasiunnya, secara tempat perhentian busnya gak terlalu jauh dari stasiun (I could see the roof of the station from the bus stop). Alhamdulillah, selesai juga urusan membantu bapak asal Aljazair tersebut sampai beliau sukses membeli tiket.

Kata orang, kalau kita berbuat baik... inshaAllah akan mendapatkan balasan dari kebaikan juga. Itu yang saya rasakan setelah menolong bapak-bapak tadi. Waktu saya kesulitan untuk mendapatkan koin demi menggunakan air di kamar kecil utk cuci muka dan gosok gigi, ada seorang perempuan cantik yg sedang hamil muda memberikan koinnya kepada saya, gratis. Wah padahal niat saya hanya menukar loh (maklum uang yg saya tukar dari bank semuanya berbentuk lembaran kertas dan koin krona Norwegia saya gak laku). Saya juga dikasih uang oleh seorang pelajar asal Ghana warga negara Italia disaat saya ingin melanjutkan perjalanan ke Stockholm. Ceritanya sih, dia kaget waktu tau uang saya tinggal 4DKK. Ya buat apa toh saya menyimpan uang krona Denmark sementara saya sudah tidak membutuhkan lagi, rencananya sih uang sisa tsb mau saya jadikan koleksi. Trus dia memberikan saya uang yg cukup dibelikan sandwich dan air mineralnya sekaligusnya (he gave me 50DKK, equals to 7Euro something). Huaaaa... lumayan, alhamdulillah. Dia juga memberikan saya kartu gratis penggunaan internet selama 1 jam, wahhhhhhh asik banget, udah beberapa hari saya gak online. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka berdua, amin.

Walaupun saya berada di Kopenhagen hanya dalam hitungan jam, tapi saya cukup puas bisa melakukan walking tour yg disarankan oleh brosur yang saya dapat dari turis info. Wah, saya yang selama ini mengandalkan si Tukang Dongeng utk melihat peta (kalau kami traveling) akhirnya harus bisa membaca peta sendiri. Excited banget, seperti mencari harta karun! 5 jam waktu yang saya habiskan untuk melakukan walking tour seputaran Kopenhagen. Sebetulnya waktu yg disarankan adalah 3 jam, tapi saya menikmati setiap tempat yang saya datangi, dan tentunya asik jeprat-jepret dengan pocket digicam saya. Ya inilah enaknya solo traveling, kita tidak harus terbebani oleh keinginan dari travel mate kita yang mungkin saja tidak sama.

Saya sedikit kecewa dengan little mermaid atau den lille havfrue yang ternyata kecil banget. Susah payah saya mencari keberadaan little mermaid tsb dengan mengandalkan peta dan orientasi kanan kiri yang sering terbalik-balik, eh pas sampe ternyata imut-imut gitu patungnya. Udah gitu ya, biar bisa dapat spot yang bagus motret si putri duyung itu harus berebut tempat dengan turis lain. Eh, btw... kenapa juga harus kecewa, wong namanya little mermaid, ya pastinya kecillah... kalo gede nanti H.C Andersen dibilang bohong lagi, gak sesuai sama namanya, hehehehe.

Beda dengan di Oslo yang saya sempat ngobrol lumayan lama dengan penjaga istana di Kopenhagen ini jangankan ngobrol, liat wujud mereka secara jelas saja saya gak bisa. Bener-bener deh, itu penjaga istana seperti gula yang dikerubungin jutaan semut, yang keliatan cuma topinya aja (pantesan aja mereka dijadikan lambang biskuit terkenal dari Denmark, hihihihi). Semua orang pengen foto dengan mereka yang membuat saya malas untuk ikutan. Biarin deh, nanti aja kalo ada rejeki ke Kopenhagen lagi, baru saya puas-puasin foto sama penjaganya. Mereka lebih keren dan ngetop dari Brad Pitt atau Al Pacino, karena setiap harinya ada ratusan orang yang mengantri foto dengan mereka. I bet, their photos are hanging around the world or at least storing in every computer (tentunya komputer para turis tsb loh). Iya gak sih ;)


Berhubung waktu saya terbatas, saya sengaja ikut boat tour seharga 60DKK (8Euro something) selama 1 jam. Adalah keputusan yang tepat utk ikut boat tour ini, karena saya bisa melihat sisi lain dari Kopenhagen yang sebelumnya sudah saya lewati melalui walking tour. 8Euro mah nothinglah dibandingkan dengan pengalaman yang saya dapatkan lewat boat tour tsb. Kalo traveling mah diusahakan jangan pelit deh to get the experience, karena pengalaman itu bener-bener gak ada harganya.

Oya, saya sempet dicandid loh sama seorang fotografer bule. Kok saya tahu sih? Geer kali? Ya walaupun buat saya geer itu lebih baik daripada minder, tapi saya tau dicandid ya dari si fotografer tsb. Kebetulan saya yg pengen narsis kebingungan cari orang utk motret. Begitu saya liat beliau sedang asik motret dengan kamera idaman (dslr dengan lensa putih, manteeepppppp), saya panggil aja deh. Trus beliau bilang kalu tadi sempet ngendid saya yg lagi asik motret. Wahhhh, semoga aja dia gak kecewa liat hasilnya, secara saya mah gak banget deh kalo difoto, hehehehe.


Yang namanya solo traveling itu ternyata mendatangkan teman-teman baru loh dan memperluas networking. Karena saya sendirian dilocker room sambil nungguin jam berangkat ke Stockholm, saya berkenalan dengan seorang backpakcer asal Polandia yang tinggal di Warsawa. Wah... bakalan punya teman keliling nih kalo nanti saya ke Warsawa. Trus saya juga punya teman baru orang Nepal yg sedang sekolah di Kopenhagen. Dia ini paginya udah ngobrol loh sama saya di kamar mandi, trus sorenya ketemuan lagi. Ah senangnya. Solo traveling memang bukan ide buruk!

Bersambung...

---------
Photos: (all taken by me)
- Oresund Bridge yang menghubungkan Swedia dan Denmark.
- Kapal layar.
-
Den Lille Havfrue yang beneran kecil.
- H.C Andersen yang suka dongeng.
- Amalien Borg diambil disaat mengikuti boat tour.
- Pemandangan cantik sepanjang kanal.

Foto-foto lain bisa dilihat di:
Scandinavia: Day 3 - Copenhagen (Walking Tour)
Scandinavia: Day 3 - Copenhagen (Boat Tour)

Read More...

Sunday, April 20, 2008

Oslo: Hujan, Penjaga Istana, Teman Baru dan IKEA

Dari Stockholm, saya melanjutkan tour Skandinavia ke Oslo dengan Swebus Express. Sampai di Oslo pagi hari dan disambut oleh hujan rintik-rintik yang tidak berhenti sampai saya selesai bersih-bersih dikamar mandi stasiun.

Sebetulnya saya belum puas mengeksplorasi kota Oslo, karena entah mengapa... satu harian itu hujan turun terus, bikin rencana saya untuk naik boat mengunjungi pulau-pulau cantik tidak tercapai *ihiks* Tapi tetep dong saya nekat jalan, kalo gak rugi bukan? Ya semoga bisa balik lagi deh ke Oslo, apalagi masih banyak tempat yang belum saya datengin including Vigeland Park tempat patung-patung bugil berada. Ya semoga deh, amin.

Read more...


Jalan-jalan sendirian tentunya susah untuk punya foto sendiri sementara mau nyuruh orang resikonya lumayan gede. Berdasarkan travel warning yang saya baca disitus-situs traveling, sangat disarankan untuk berhati-hati terhadap pick pocket, orang-orang yang menawarkan diri untuk memotret anda, dllsb. Besides waktu tur Skandinavia ini, saya belum punya dslr, jadi masih gampang utk selfportrait kalo hasrat narsis tak terbendungkan lagi ;)
Travel warning dari para traveler itu beneran loh, soalnya ada deh beberapa orang yang datang ke saya menawarkan diri untuk motoin waktu mereka liat saya asik-asik motret ini itu. Ya bukan suudzon sih, tapi lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Toh saya juga gak narsis-narsis amat, dan memang sukanya motret bukan dipotret (apalagi kata temen saya mah, saya mati gaya kalo difoto... kayak orang tipus, hehehehe).


Hujan yang tidak berhenti sepanjang pagi sampai siang, membuat hasrat memotret juga ngedrop. Tapi dipaksain juga sih untuk motret sekedarnya, maklum belum tentu tahun depan saya bisa ke Oslo lagi, jadi lanjuuut. Salah satu yang wajib dipotret adalah penjaga istana (sebel, cuma sama penjaga istana di Kopenhagen saya lupa, abis mereka kayak gula sih yang dikerubungin semut-semut sampai gak keliatan wujudnya). Penjaga istana di Oslo ini mau loh diajak ngobrol (abis katanya penjaga istana di London gak boleh ngedip apalagi ngobrol... aarrrggghhhhhhh jadi inget uang tiket ke UK melayang deh gara-gara urusan visa). Nah sebagai orang Indonesia yang katanya sopan, saya minta ijin dong sama beliau... karena jangan sampe gara-gara saya potret, gajinya dipotong, hihihihi. Eh dia bilang silahkan, bahkan dia menawarkan diri untuk mendekat dengan saya, biar jelas katanya. Waktu ngeliat hasilnya, saya ngomong gini:

saya: "wow, I'm small"
penjaga: "yes, you are very small"

wakakakaka... lucu banget memang penjaga yang ini.

Satu hari sebelum berangkat ke Stockholm, saya sempat kenalan lewat MP dengan orang Indonesia yang tinggal di Oslo. Berhubung beliau harus bekerja, jadilah beliau mengutus temannya untuk menjemput saya untuk kemudian makan siang di IKEA (dia kerja musim panas di IKEA). Terharu banget, temannya teman baru saya itu bela-belain menembus hujan demi menjemput saya. Ah memang deh, kalau sudah jauh gini... rasa tolong-menolong jadi lebih tinggi. Kami bertiga langsung merasa dekat, nyambung banget.

Saya yang sudah sempat makan di restoran Cina karena kangen makan nasi (bosen kali makan roti terus), gak ikutan makan di IKEA.. padahal pengen juga sih, tapi malu, wakakakaka (boong banget... saya aja pemalu, gak mungkiiinnnnnn). Mereka seneng gitu waktu saya keluarin saus sambel botol andalan. Huaaa... ternyata di Oslo mah susah nyari saus sambel!

Oya, saya sempet diomelin loh sama petugas keamaan di IKEA Oslo karena motret waktu nungguin teman saya didepan toilet. Habis daripada bengong nungguin dia, mending juga moto-moto, eh ternyata gak boleh. Alhamdulillah fotonya gak disuruh apus.
IKEA di Oslo samalah besarnya kayak IKEA di Bremen... tapi sepertinya sih barang-barangnya lebih banyak dan komplit deh... bikin ngiler aja. Apalagi kalo saya sempet main ke IKEA Stockholm kali ya... bakalan banjir iler kayaknya, hehehe.

Dari IKEA saya melanjutkan jalan-jalan dengan temannya teman baru saya itu. Beliau membuat saya tahu bahwa di Oslo itu tempat bilyardnya cuma punya satu petugas yang merangkap segalanya (waitress, kasir, bersih-bersih, etc), alasannya sih karena pajak yang tinggi. Oslo memang kota paling mahal seduniah deh.. tapi tetep loh, gak tau kenapa buat saya, mahalan Stockholm, abis di Oslo saya sanggup makan di restoran bagus, secara di Stockholm nyengir, hihihi.

Setelah sempat bersih-bersih dirumah temannya teman baru saya itu, saya melanjutkan perjalanan ke Kopenhagen. Uihhhhhhhh, excited banget!

Bersambung...

---------
Photos: (all taken by me)
- Oslo Royal Palace.
- Self portrait demi melindungi digicam dari penculikan.
- Oslo National Theater.
- Saya dan Penjaga Istana yang lucu.
- Teman-teman baru baik hati yang hepi banget makan kentang pake saus sambel.
- Kapal layar.

Foto-foto lain bisa dilihat di: Scandinavia: Day 2 - Oslo

Read More...

Norak

Iya... emang saya norak.

So what?

Sabar..... sabar! *ngelus dada*

Read More...

Saturday, April 19, 2008

Fragile

When I saw lovers hugging so passionately through the view finder along the Rhine River, I was touched. Directly I pushed my shutter to capture that lovely moment.

click photo for better viewing

A relationship is fragile when we don't take a good care of it. Understanding each other and compromising are needed to manage the relation while trust and respect will make it stronger. Love is not only to take, but to give in return as well. Those things together with a passionate kiss and a warm hug, will keep it from broken.

----------
Picture taken in
Köln, Germany
Saturday,
January 26th, 2008
First appeared in album: Köln - Dusseldorf Airport

Read More...

Pulang

Dan lalu...
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu!
Bersamamu!


Pernah gak ngerasain sakit didada yang bikin air mata meleleh secara otomatis? Saya pernah, dan sekarang rasa itu yang sedang saya nikmati.

Bulan Juni nanti, genap 2 tahun saya tidak pulang ke Jakarta, dan saya rindu. Waktu naik pesawat ke Praha beberapa hari lalu, hati saya serasa teriris-iris begitu melihat pemandangan kota Praha sebelum mendarat. I wish itu adalah pemandangan Jakarta, kota yang walaupun bikin senewen, tapi tetep ngangenin karena semua yang saya cintai ada disana, di Jakarta.

Read more...


Dan lalu...
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!


Pulang, lagu yang ditulis oleh Meng dan diaransemen oleh Bontel ini telah saya nobatkan menjadi soundtrack of the day/week/month/year (pokoke sampe saya pulang deh), bahkan saya gunakan sebagai ringtone setiap keluarga saya menelpon. Saya benar-benar ingin pulang, ihiks.

Tapi ya, disaat hati lagi biru gini... saya tetep loh gak bisa nahan ketawa liat gayanya Bontel di video clip dari You Tube ini. Kenapa juga coba, gaya lo harus nguras air pake gayung gitu sih Tel?

Ahhhh... sinting, saya malah jadi tambah kangen liat Bontel dan Remon disitu. Eits... jangan gosip dulu yak, Bontel ini temen SMP saya yang kebetulan lahirnya sama (beda jam doang dan pastinya beda rahim juga, hehehe), dan gara-gara sms selamat ulang tahun yang saya kirim Agustus 2007 untuk beliaulah saya jadi tau tentang Float.

FYI, dulu di SMP saya yang ngetop itu (tau deh sekarang masih ngetop apa gak) dan selalu juara basket walaupun lapangannya cuma setengah, yang ulang tahun sama dengan saya (tahunnya juga sama) ada 4 orang. Nah jadi tradisi aja buat kami untuk ngucapin tiap tahunnya, walaupun sekarang ini cuma sama Bontel doang, karena yang lain udah hilang kontak.

Tu kan... saya jadi tambah kangen Jakarta *berkaca-kaca*

Dan lalu...
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!



---------
Video courtesy of: blindpigfilm - You Tube
Lyric courtesy of: Float (Pulang - OST 3 Hari Untuk Selamanya)

Read More...

Wednesday, April 16, 2008

Praha: Kota Lampu yang Cantik

13-15 April 2008, saya dan Noni (doctor candidate) melakukan kunjungan singkat ke Praha. Rencana traveling ini datangnya dari beliau, jadi saya tinggal terima beres, enak ya ;)

Saya berangkat tanggal 12.04 sore dengan ICE ke Dortmund Hbf (stasiun utama), untuk kemudian disana bertemu dengan Noni dan bersama-sama menuju Köln (Noni tinggal di Köln). Saya sengaja memesan ticket ICE pp Bremen-Dortmund, karena kami memakai pesawat yang berbeda untuk pp Cheko - Jerman. Kami berangkat menggunakan German Wings dari Köln Bonn Flughafen (airport) dan pulang dengan Easy Jet ke Dortmund Flughafen.

Read more...


Sejak awal berangkat, kami sudah mengalami pengalaman yang menegangkan, yaitu salah liat jadwal bus! Akhirnya kami-pun harus berjalan kaki cepat menuju stasiun agar tidak ketinggalan kereta. Alhamdulillah, kami sampai tepat waktu.. sehingga kami bisa langsung naik kereta lokal menuju airport. Masalah selesai? Belum tentu, karena kami belum punya tiket yang artinya kalau diperiksa petugas, kami harus bayar denda 40€! Langsung dong kami turun di halte selanjutnya, membeli tiket dan menunggu kereta selanjutnya selama 20 menit. Duh! Dinginnya itu loh :))

Noni sempat membatin (she told me after we came back home - Germany maksudnya) takut liburan singkat kami di Praha nantinya tidak menyenangkan considering awal yang berantakan tsb. But, thanks God! We really had a blast in Prague.

Ternyata keberuntungan menyapa kami di Praha. Begitu kami mendarat di bandara Praha, setelah selesai dengan urusan bagasi dan menukar uang dan membeli 24hours tiket, kami tidak perlu menunggu lama bus yang akan membawa menuju hotel Ostruvek. Kami sempat mengalami kejadian yang cukup memalukan tapi menghibur hati. Jadi ceritanya tram kami berhenti dilampu merah dan kebetulan itu adalah lampu merah didekat hotel kami berada. Supir tramnya keluar tram dari pintu depan (dan membiarkan pintu tsb terbuka), saya yang berpikir bahwa itu adalah halte tempat kami turun pun sibuk memencet tombol pintu tengah. Ditengah asiknya saya memencet, ada seorang bapak yang menunjuk kearah depan yang kami pikir beliau menyarankan kami untuk keluar lewat pintu depan, lalu bergegaslah kami keluar. Begitu kami berada diluar, kami baru sadar... bahwa maksud si bapak tersebut adalah "haltenya masih didepan", bukan keluar dari pintu depan yang terbuka, karena supirnya keluar untuk mengecek sesuatu, hihihihihihi. Walhasil, dihari pertama kami, kami sudah melanggar peraturan, turun sembarangan, wakakakakaka.
Dasar orang asing!

Alhamdulillah, seneng banget, karena hotelnya tidak jauh, petugasnya ramah (beliau langsung menyapa kami dengan bahasa Jerman) dan yang paling penting itu adalah "kamar hotelnya bagus dengan kamar mandi yang bersih". Horeeeeeeeeeeeeee!
Dan hal ini membawa kegembiraan dihati kami yang selanjutnya membuat perjalanan dihari pertama sangat menyenangkan.

Orang-orang Praha sangat menyenangkan dan ramah. Berbicara dalam bahasa Inggris dengan mereka juga bukanlah masalah, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengerti bahasa Jerman (ya iyalah, namanya juga tetangga). Gara-gara seorang pramuniaga yang mengaku-aku diadopsi oleh pasangan Indonesia-Korea, akhirnya kami bisa berkenalan dengan Fika (he said to Fika that we are Korean).

Fika ini adalah backpacker sejati, beliau tinggal di Australia (she has Australian passport) dan sudah sejak Januari 2008 kemarin melakukan perjalanan (she has been in Latin America, America, North Europe, etc) yang akan berakhir Juni 2008 di Indonesia sebelum kembali ke Australia. Beliau sangat menyenangkan dan ramah, kami langsung akrab layaknya teman lama. Klik gitu deh! Praha dihari pertama akhirnya kami jalani bersama Fika yang bersedia menjadi guide tanpa dibayar, hehehe.

Praha menurut saya sangat cantik, bersih dan dimana-mana bertaburan lampu jalan yang bentuknya cantik, itulah makanya difoto-foto saya, banyak sekali lampu jalan sehingga Fika menyebut saya "fettish" (setelah shoes fetish, skg saya jadi street lamp fetish, hihihihi). Tapi I just couldn't help it, lampu-lampu itu begitu menggoda untuk diabadikan bahkan akhirnya-pun Fika ikut-ikutan asik mengabadikan lampu-lampu tsb, hihihi.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di Staromestské Námestí (Old Town Square), menikmati bangunan-bangunan tua disana sambil berebutan spot dan angle bersama para turis lain demi mendapatkan foto-foto cantik terutama foto dari Orloj (Astronomical Clock). Mencoba mengalahkan sinar matahari dan mengejar sunset di Karlúv Most (Charles Bridge) dan bereksperimen demi memuaskan hasrat narsis my two companions (saya akhirnya juga tertular narsis sih, tapi gak seberat mereka kok, hihihihi).

Hari pertama kami tutup dengan makan bebek peking "take away" dari restoran Cina dekat hotel. Biarin deh, jauh-jauh ke Praha juga makannya di resto Cina, soalnya mana ada bebek peking seharga 4 Euro di DE? Mimpiiiiiiiiiiiii!!!
Tapi tenang, hari kedua kami sudah bertekad untuk makan makanan khas Cheko kok ;)

Bersambung... (semoga gak malas)

---------
Photos: (all taken by me)
- Lampu jalan dan patung di Charles Bridge.
- Kamar hotel kami.
- Passage to Old Town Square.
- Astronomical Clock dan para turis.
- Kami dan si Opa (taken by me with tripod).
- Prague Castle dari Charles Bridge.

More photos of Prague can be viewed in: Praha: Hari Pertama - Kawan Baru di Kota yang Cantik

Read More...

Friday, April 11, 2008

Nyaris Dibuang

click photo for better viewing

Karena mau jalan-jalan kesini, saya dipaksa si Tukang Dongeng untuk beli sepatu. Walaupun pada awalnya bandel dengan alasan bahwa sepatu lama saya juga udah nyaman dan tahan dingin (cuma gak tahan licin, hehehe), akhirnya saya mengalah mau juga membeli sepatu tsb.

Sepatu yang akhirnya jadi sepatu favorit ini (terutama disaat dingin seperti ini), tadinya sempat mau saya buang loh, bahkan sudah saya tinggalin ditokonya segala. Ngambek gak mau pake lagi!

Read more...


Habis ya, itu sepatu baru saya pakai satu kali, eh kok langsung kotor gitu. Ya senewenlah saya, secara harganya lumayanlah... apalagi buat kantong mahasiswa spt saya ini. Nah, berhubung sepatunya itu katanya garansi 3 tahun, jadi saya pulangin dong ke tokonya. Kebetulan kalau dalam kurun waktu dua minggu, sepatunya bisa dibalikin asal ada kuitansi.

Eh kok ya waktu saya mau balikin, kata mas-mas penjaganya gini:
"Aduh, ini mah sepatunya bukan kotor, tapi kelunturan celana panjang anda. Saya gak bisa ganti dan gak bisa mencoba membersihkan, karena garansi kami itu untuk mutu dari sepatu"

Bah!
Kalo misalnya itu kulit (sepatunya kulit balik gitu deh) bisa kelunturan, artinya mutunya gak bagus dong!

Setelah beragumentasi, saya yang kesel akhirnya ninggalin itu sepatu diatas meja kasirnya. Bodo amatlah!

Ya sebel dong, harusnya mas-mas itu nanya dulu sama manajernya, apa bisa sepatu saya diperbaikin (atau dibersihin), bukan langsung mem-vonis tidak bisa. Enak bener main ambil keputusan sepihak, lagipula saya gak minta diganti yang baru kok, saya cuma minta bukti dari garansi yang katanya 2 tahun itu. Eh iya, diralat loh sama mas-nya waktu saya bilang garansi 3 tahun - idih, gimana sih, waktu beli katanya garansi 3 tahun, kok sekarang dikorting jadi 2 tahun. Huh!

Maksud hati sih ingin mencoret merek tsb dari list barang-barang fav saya, tapi apadaya... saya kadung jatuh cinta sama model-modelnya sih, yang sepertinya saya banget.

Alhamdulillah, waktu itu ada si Tukang Dongeng yang sabar liat istrinya ngomel-ngomel (saya ngomel setelah kehilangan kesabaran mencoba bergaya super lembut), jadi itu sepatu dia bawa lagi. Coba deh kalo gak ada si Tukang Dongeng, pastinya saya gak bisa bikin foto sepatu saya seperti yang diatas, hihihihi.

Ya sudah, nanti menjelang 2 tahunnya abis, semoga aja itu sepatu rusak dan rusaknya parah sehingga harus diganti yang baru sama tokonya. Lumayan bukan?

Masih 20 bulan lagi.

---------
This photo first appeared in: Picture Perfect: Hobby.

Read More...

Wednesday, April 9, 2008

Berlin: Salju di Musim Semi

Wiken liburan Paskah yang lalu, saya dan 3 orang teman lain berangkat ke Berlin. Kami berangkat Sabtu pagi dari Bremen Hbf dengan memanfaatkan wiken tiket seharga 35€ yang berlaku untuk 5 orang.

Awalnya saya sempat berpikiran untuk membatalkan niat pergi karena badan saya mulai terasa tidak enak, tapi karena sudah janji, ya mencoba sok kuat aja deh. Apalagi niatan saya adalah melengkapi koleksi city tee dan city pin HRC Jerman (3 kali ke Berlin gak pernah tercapai beli-belinya) dan tentunya motret dong (maklum deh, lagi lucu-lucunya mainan dslr nih).

Read more...

Sampai di Berlin, cuaca ternyata tidak mendukung, hujan aja gitu! Mood saya langsung hilang, hilang sudah keinginan motret, apalagi setelah misi melengkapi koleksi accomplished. Dasar orang Indo! Itu kata seorang teman tentang hobi saya mengoleksi HRC merchandise.

Walaupun mood saya drop ketitik nol, saya masih tetap memaksakan diri untuk memotret. Ya iyalah, sayang banget gitu... udah berat bawa kamera, udah pegel pantat duduk dikereta selama 6 jam (minus transit), masa gak motret sih! Emang gak berat apa bawa kamera dan tripod? Tapi tetep loh, itu tripod gak saya pakai, habis dingin banget... bikin males pasang tripod.

Cuaca dihari Minggu ternyata malah lebih parah. Salju turun dari pagi sampai sore, dan cuma berhenti waktu kami makan siang di restoran sushi. Beneran deh, begitu kami selesai makan dan berniat melanjutkan perjalanan demi melihat salju yang berhenti turun, eh itu salju turun lagi dong... deras pulak!

But in spite of all, spending time with friends in Berlin during Easter holiday was not a bad idea at all, walau setelahnya saya harus terkapar selama seminggu karena tipus.

Lagian siapa suruh masih capek pindahan eh lanjut ke Berlin?
Tipus deh!

---------
Photos: (all taken by me)
- Reichstag Building.
- Pearl Jam inside HRC Berlin.
- Ampelmännchen, katanya sih ini tandanya Berlin Timur waktu tembok Berlin masih ada.
- Bird (lonely and cold)

More photos of Berlin: Berlin: Losing My Mood

Read More...

Tuesday, April 8, 2008

Garden of Love

I love this picture, and some of my friends who are my senior in photography love it too. They said I did a great job in capturing the beauty of autumn. When I see the picture, I can only thing of this song, the best song that can represent how I feel about this garden. My garden of love.

click photo for better viewing



In the garden of love I saw
A moment of sun in her eye
And everything was quiet.

In the garden of love I saw
Starlight sigh and shadow move.

Faltering, no faltering
Faltering

[Chorus]
Before you go, a few words for your heart
Before you turn, something to ponder in your heart
As you go

In our garden of love we grew
Roses so red our hearts were busted open
All feeding on the dream we made
The bright and beautiful parade
That bloom by bloom began to fade
And blow by blow, oh

[Chorus]
Before you go, a few words for your heart
Before you turn, something to ponder in your heart
As you go

How we tried to make everything right
How we fought and we talked through the night
How we nearly
Made it.

In the garden of love I saw
A moment of sun in her eye
And everything was quiet.

Stepping out into the light
Other side of the window
Blinking and blind in the light
Other side of the window
Falter, no faltering now
Other side of the window
Falter, no faltering now
That journey is over
Over
Over

There's only so much that our heart can grow
Then everything else starts to overflow
But you're young and in love
Back then there was no way of knowing

So we pushed and we pulled with our nerves of steel
You had the pedals and I had the wheel
And the terrible truth
Is we never knew where we were going

There's only so much that our heart can grow
Then everything else starts to overflow
But you're young and in love
Back then there was no way of knowing

---------
Song by: Aqualung
Album: Memory Man (2007)
Lyric courtesy of: Azlyrics.com
Video courtesy of: Kaddarick - You Tube

Picture taken at Englischer Garten, München - Germany
Saturday, October 20th, 2007

This photo first appeared in my multiply album: München: 5 Jam Saja
and submitted for Picture Perfect Friday: A Song Title.

Read More...

Monday, April 7, 2008

Ternyata Sama Aja Kok...

Cerita ini terjadinya udah lama banget, waktu saya masih kerja disalah satu Hypermarket di Bremerhaven. Pernah dimuat disini.

Waktu itu, spt biasa... gue lagi banyak kerjaan dan gue harus kerja sendiri, krn teman-teman gue lagi banyak yg cuti. Seperti biasanya juga, gue kerja dibagian Süßwaren (coklat, permen, kue) yang letaknya lumayan jauh dari Droggerie (obat2an, sabun, shampo, dll spt itu) dan juga jauh dari Haushalt (keperluan rumah tangga). FYI, supermaket gue ini sama kayak Carefour gituh dan terbesar di Bremerhaven (kalo gak salah yahhhh, kalo salah ya maafin).
Lagi asik-asiknya gue ngurusin barang-barang yg harus gue masukin ke rak.. krn gue gak tau deh, kok ya rak-rak pada kosong gitu, seolah-olah mereka emang sengaja nungguin utk gue isi. Why meeeeee! Ihiks... soalnya emang kalo lagi kosong gitu, kerja gue pasti menggila deh.
Lagi asik gitu, gue liat ada dua orang abg (sepasang) yg malu-malu gitu mau nanya sama gue.

Read more...

Verzeihung. Wir haben frage. (Maaf, mau nanya dong)
Ja, was kann ich für Sie tun? (Yup, ada yg bisa saya bantu?)
Hmmm, hmmmm... haben Sie hier Gummi? (hmmm, hmmm... jual karet gak?)

Gue langsung pusing... mati gue, sumpah soalnya gue belum pernah liat karet dijual disini. Tapi gue gak boleh bilang gak tau sama pelanggan, jadi gue bilang:

Ich bin nicht sicher.. aber haben Sie in Haushalt abteilung gesucht? (Saya gak yakin, tapi anda udah coba cari di bagian keperluan rumah tangga?)

Trus mereke pergi setelah bilang terimakasih, dan gue lanjut lagi.

Kira2 beberapa menit kemudian mereka dateng lagi. Dan ngadu kalo gak ketemu yg mereka cari. Gue jadi tambah pusing, tapi trusnya gue inget... jangan-jangan yg mereka maksud permen karet lagi.

"Aha, meinen Sie Kaugummi" (aha, maksud anda itu permen karet?)
"Nein" (bukan) dengan muka frustasi ngeliat gue.

(picture courtesy of: www.neupresse.de)

Mampus... apaan sih. Trus gue suruh aja mereka deskripsiin apa yg mereka mau. Tapi mereka cuma diem aja sambil merah gitu pipinya. Ya ampunnnnnnnnn, gue udah mulai naik darah, tapi tetep gue sabar-sabarin.. soalnya gue udah tanda tangan harus manis-manis sama pelanggan.
Trus gue suruh tanya sama temen gue yg lagi kerja dibagian Molkerei (produk susu)... tapi mereka gak mau. Sial!!!! Temen gue orang Jerman aja gituloh, pasti kan lebih ngerti. Mereka dg gantengnya diri dideket gue... dan si cewek nyolek-nyolek cowoknya utk ngasih tau gue apa yg mereka mau.
Gue sabar-sabarin, sambil ikutan mikir... apa sih gummi yg mereka maksud.. tapi mereka gue tinggal aja gitu, soalnya kerjaan gue banyak. Itu orang dua muter-muter aja di abteilung gue.. bikin pusing. Tapi tiba-tiba gue jadi inget... jangan2 gummi yg mereka maksud itu kondom lagi (kan kondom itu karet juga bukan?). Trus gue deketin:

"Sie meinen Kondom, oder?" (maksud anda kondom ya) gue ngomong gitu sambil ngeliatin dua-duanya... meneliti muka mereka, siapa tau aja kegambar kalo mereka lagi bete (dg arti lain) atau bener-bener udah rhtt (baca: erhatete.. wakakakakaka).
Ya ampun... tampang mereka langsung merah gitu, tapi lega... krn gue akhirnya ngerti juga. Wakakakakakaka, bilang atuh jang, neng dari tadi.... coba kalo bilang kondom gitu, udah selesai kali ronde pertama (hehehehehe).

Ya udah, gue anterin aja ketempat kondom yg adanya di Droggerie Abteilung. Eh itu bocah dua bukannya langsung milih atau ambil apa yg mereka mau, tapi saling cubit-cubitan gitu. Si cowok nyuruh ceweknya yg milih, ceweknya kagak mau. Gue mah dg isengnya tetep aja disitu... gue pura-pura aja sibuk ngeberesin rak disebelah kondom. Heheheh, abis... mereka udah ngerjain gue gini... bilang kondom aja malu. Gara-fara gue ada disitu, itu bocah-bocah gak ngambil-ngambil juga... hihihi, gue gak tega juga, gue pergilah sambil bilang:

"Alles klar" (beres kan) ngomongnya sambil nahan senyum dan ngeliatin dg mata nakal gue (toh disurat perjanjian gak dibilang gak boleh ngeledekin pelanggan ini).
"Ja, danke" (Ya, makasih)
"Gerne" (apa yah gerne... artinya gue seneng nolongin)

(picture courtesy of: derkinderkurier.wordpress.com)

Ya ampun, gue kira cuma orang Indo spt si Agus (tokoh di Jomblo) yg malu-malu beli kondom, ternyata abg Jerman juga malu toh. Wakakakaka.... sayang gue gak bawa kamera, kalo bawa kan bisa gue abadikan muka merah mereka yg lega begitu gue ngomong kondom.

Ternyata sama aja yah... gak di Bremerhaven gak di Bandung (Agus tokoh Jomblo itu tinggalnya di Bandung, hehehehe... dibahas), beli kondom itu membuat orang jadi pemalu mendadak.

Read More...

Wednesday, April 2, 2008

Mel dan Mer

Mel gelisah. Tak putus-putus dipandanginya jam yang melingkar dipergelangan tangan kanannya. Ahhhh... sudah lewat dari 30 menit, tidak biasanya Mer datang terlambat. Hatinya gelisah.

"Aku bosan Mel. Jenuh"
tiba-tiba Mel teringat kata-kata Mer tadi malam lewat telpon. Kata-kata itu sudah lebih dari ratusan kali Mel dengar sebulan terakhir ini. Kata-kata yang kemudian membuatnya melangkah menuju apartemen Mer yang memang tidak jauh dari tempatnya menunggu. Hatinya bertambah gelisah.

Read more...


Entah mengapa, hatinya melarang Mel untuk memencet bel apartemen Mer. Dipakainya kunci yang diberikan Mer tiga bulan lalu disaat usia hubungan mereka berjalan enam bulan. Perlahan ditekannya gagang pintu untuk kemudian melangkah tak kalah pelannya.

Diruang tamu dilihatnya ada secangkir teh yang baru setengah diteguk pemiliknya. Hmm, apa ini yang membuat Mer datang terlambat? Seorang tamu yang tak diduga sebelumnya, karena janji untuk bertemu hari ini adalah murni keinginan Mer.

Dengan nafas yang menderu dan jantung yang berdegup kencang, Mel melangkahkan kakinya menuju kamar tidur Mer. Hatinya semakin gelisah.

Pintu kamar Mer tak tertutup rapat, Mel membukanya perlahan. Belum lagi sempurna pintu itu terbuka, Mel sudah bisa melihat semuanya. Badannya gemetar, nafasnya seolah terhenti, hatinya sakit. Disana, disisi tempat tidur, Mer sedang berada dalam pelukan seseorang.

Hatinya hancur. Ditinggalkanya apartemen itu dalam sejuta kesedihan. Bayangan Mer dalam pelukan orang tersebut seakan tak mau lepas dari ingatannya.

Ya, aku tak pernah bisa mengalahkan orang itu. Lelaki yang selalu ada dihati Mer, lelaki pertama dalam hidup Mer.

Read More...