Thursday, March 20, 2008

Duh!

Udah jauh-jauh tinggal dari tanah air, dinegara maju pula... tapi tetep dong kelakuan mah negara berkembang.

Sometimes I feel, the Indonesians living in Indonesia are billion times better than those who live abroad.

Susah!

Read More...

Tuesday, March 18, 2008

Armer Student

maksudnya mahasiswa miskin.

Itu kata supir taksi yang biasa mangkal di Bremen Hbf waktu beliau mengantarkan saya dan si Tukang Dongeng pulang ke apartemen yang baru.

Kok bisa sih dia bilang begitu?

Read more...


Gini:

Beberapa waktu lalu sehabis mengambil sisa barang dari Bremerhaven, sesampainya di Bremen kami memutuskan untuk pulang ke rumah dengan naik taksi. Maklum deh, badan sudah gempor karena bersih-bersih rumah dan nyaris tiap hari bawa sisa barang (ternyata selama 5 tahun saya jadi penumpuk barang juga). Berhubung rumah kami dekat dari stasiun kereta (4 menit naik tram dan kurang dari 10 menit jalan kaki), biasanya ongkos naik taksi itu kurang dari 5 Euro.
Nah berhubung bawaan saya banyak dan biar gak repot pas turunnya, saya langsung menyiapkan uang (dan kebetulan waktu saya mengeluarkan 1 lembar 5 Euro tsb, supir taksinya melihat).

Eh ya kok si Tukang Dongeng salah memberikan instruksi jalan. Niatnya sih biar turun tepat didepan rumah, eh malah jadi muter. Supir taksi yang juga merasa bersalah (karena sempat disuruh belok, beliau malah terus), akhirnya mematikan argo pada bilangan 8 Euro dan begitu sampai, beliau meminta uang 5 Euro saya, tanpa tambahan apapun.

Katanya: Saya juga pernah jadi mahasiswa, dan saya tahu seberapa banyak uangnya mahasiswa itu.

Ah! Semoga Tuhan melipat gandakan rejeki supir taksi tersebut, amin.

Read More...

Thursday, March 13, 2008

Quand Tu Dors

click photo for better viewing

Toi tu dors la nuit
moi j’ai de l’insomnie
je te vois dormer
ça me fait soufrir

......................................................
Toutes les nuits je pleure toute la nuit
et toi tu rêves et tu souris
mais cela ne peut plus durer
une nuit sûrement jet e tuerai
tes rêves alors seront finis
et comme je me tuerai aussi
finie aussi mon insomnie
nos deux cadavres réunis
dormiront ensemble dans notre grand lit

Toi tu rêves la nuit
moi j’ai de l’insomnie
je te vois rêver
ça me fait pleurer

Voilà le jour et soudain tu t’éveilles
et c’est à moi que tu souris
tu souris avec le soleil
et je ne pense plus à la nuit
tu dis les mots toujours pareils
“As-tu passé une bonne nuit”
et je responds comme la veille
“Oui mon chéri j’ai bien dormi
et J’ai rêvé de toi comme chaque nuit.
un poème de Jacques Prévert

----------
Picture taken in Stuttgart, Germany
Thursday, December 20th, 2007
First appeared in: Picture Perfect: Empty

Read More...

Wednesday, March 12, 2008

Stockholm: Bandara Ditengah Hutan dan Air Mineral

Setelah gagal menjejakkan kaki di negara-negara Inggris Raya, sayapun mengalihkan tujuan ke negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark). Bukan perjalanan yang panjang, hanya perjalanan singkat saja, uji nyali solo traveling di-negara-negara yang bahasanya-pun tidak saya kenal.

Read more...

Berangkat dari airport Bremen dengan menggunakan Ryan Air (yang alhamdulillah tepat waktu, tidak seperti yang ditakut-takuti orang bahwa bisa saja pesawat saya dibatalkan, uh!) yang akan membawa saya ke bandara Stockholm Skavsta.

Waktu pesawat akhirnya mendarat dibandara tsb, saya yang: "hah! dimana ini?"
Hehehehe, bukan apa-apa sih, masalahnya itu bandara adanya ditengah hutan pinus (atau cemara) dan proses dari landing sampai berhenti total itu sebentar banget. Benar-benar pengalaman tak terlupakan.

Berhubung saya harus ke Stockholm sementara bandara tsb adanya di Nykoping, sayapun meneruskan perjalanan dengan menggunakan bus khusus bandara dengan tiket sekitar 20€ pp (Stockholm adalah starting and ending point saya dalam melakukan tour Scandinavia ini). Didalam bus, saya duduk disebelah seorang bapak-bapak bertampang Asia yang sedang asik makan kacang. Bapak yang ternyata orang Korea tersebut menawarkan makanannya, tapi berhubung saya gak mau nantinya kehausan, ya saya tolak. Kami akhirnya malah jadi ngobrol sepanjang jalan yang membuat saya tahu bahwa beliau hanya transit di Stockholm untuk kemudian kembali ke Seoul. Beliau habis berlibur kebeberapa negara Eropa dengan keluarga, namun karena urusan pekerjaan, berangkat dari Seoulnya tidak satu pesawat dengan anak-anak dan istrinya.

Untuk membunuh waktu, kami berdua mengeksplore daerah sekitar stasiun kereta, dan pastinya sih foto-foto juga. Kami sempat nonton konser gitar di gereja dekat stasiun. Permainan gitarnya mantap juga, namun karena kami masih harus melanjutkan perjalanan, kami tidak menonton konser tsb sampai selesai.

Si bapak yang terlihat sangat sederhana itu ternyata adalah salah seorang petinggi di BMW Seoul. Duh, dasar deh... gak jauh-jauh memang saya dari Jerman tercintah, sampai teman seperjalanan dari Nyköping ke Stockholm pun bekerja diperusahaan Jerman. Kemana saya pergi, pasti deh ketemunya sama orang Jerman atau orang yang berhubungan dengan negara Jerman.

Walaupun hanya sempat mengeksplore sebagian kecil dari Stockholm, tapi kesan yang saya dapat.. kota ini sangat cantik, apalagi dengan kanal-kanal dan sungai yang mengalir ditengah kota memberikan kesan romantis. Ah, andai saja perjalanan kali ini saya lakukan bersama si Tukang Dongeng, pasti sangat menyenangkan.

Dari Stockholm, saya akan memulai petualangan di Oslo, Norwegia. Sebelum berangkat dengan Swebus Express (sangat disarankan, karena harganya yang ramah untuk student yang memiliki International Student Identity Card), saya menyempatkan untuk membekali diri saya dengan air minum. Ya, tau sendiri... saya minumnya banyak, dan saya takut perjalanan akan nonstop atau kalaupun berhenti tidak ada kios untuk membeli air minum. Harga air minum botolan di Stockholm benar-benar mencekik leher, hehehe. 3 Euro something untuk kemasan 1 liter! Hebat!
Ya tapi daripada dehidrasi kehausan, dibeli juga dong.... masa buat diri sendiri aja pelit sih, gak asik ah!

Bersambung...

---------
Photos: (all taken by me)
- Terminal khusus Ryan Air di Bremen
- Boat yang melintasi sungai disepanjang daerah stasiun.
- Salah satu sudut kota Stockholm waktu sunset.

Foto-foto lain bisa dilihat di: Scandinavia: Day 1 - Stockholm

Read More...

Monday, March 10, 2008

Dalam Doaku

click photo for better viewing

dalam doaku subuh ini kau menjelma langit
yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang diatas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin yang mendesau entah dari mana

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hingap diranting dan menggugurkan bulu-bulu jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap didahan mangga itu

maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin
yang turun sangat pelahan dari nun disana,
yang bersijingkat dijalan kecil itu
menyusup dicelah-celah jendela dan pintu
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang dengan setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu,
itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselematanmu.

Sapardi Djoko Damono

....dan doa-doa itu tak akan putus kupanjatkan untukmu.

---------
Picture taken in: Aalen - Germany
Sunday, October 28th, 2007
First appeared in: Aalen : Menikmati Indahnya Hutan Kota

Read More...

Sunday, March 9, 2008

Oberstdorf: Bersepeda Salju Di Nebelborn

Nebelhorn adalah tujuan kedua dari kunjungan wisata singkat kami di Oberstdof 22-24 Desember 2007 kemarin.

Rencananya kami pengen berangkat pagi-pagi banget setelah shalat subuh, tapi sarapan baru tersedia setelah jam 8 pagi. Ya udah, nunggu aja dulu deh.. soalnya kalo gak sarapan bakalan gak kuat nantinya, karena rencananya kami mau puas-puasin main di NTC Fun Park yg ada di Nebelhorn. Setelah menikmati sarapan ala Jerman yg enak (telur rebusnya mantep, kuningnya pas banget), kamipun berangkat. Ternyata Nebelhorn itu letaknya tidak jauh dari pusat kota dan kali ini kami dibebaskan untuk naik bus menuju Nebelhorn tanpa membayar alias gratis. Cool!

Read more...


Sempat terpikir untuk menyewa peralatan ski yg seharga 20€ per setengah hari (setelah jam 12 siang). Berhubung kami datangnya jam 10, petugas penyewaan peralatan olah raga musim dingin menyarankan untuk kembali jam 12, biar bisa membayar untuk setengah hari saja. Ya sudah, kamipun memutuskan untuk naik keatas dengan menggunakan cable car/mountain lift.

Kami membayar 32€ per orang utk tiket sampai kepuncak Nebelhorn (Nebelhorn Gipfel). Mahal sih untuk ukuran kantong mahasiswa spt kami, tapi tujuan kami ke Oberstdorf ya untuk bisa naik sampai ke puncak, jadi ya harus beli dong. Alhamdulillah gak sia-sia mengeluarkan 64€, karena keindahan yg kami nikmati dan rasa dekat dengan Allah lebih berharga dari semua itu.

Sampai di NTC Fun Park (stasiun pertama) yang memang tujuan kami agar bisa bersenang-senang main sliding board atau apalah, kami ternyata malah menyewa snow bike (harga sewa 8€ per jam). Waaaaaaa enak banget naik snow bike, si Tukang Dongeng sampai gak mau pindah dari situ :)) Trus gara-gara melihat kami menikmati snow bike, akhirnya banyak orang yg memutuskan untuk meninggalkan alat-alat ski dan snowboardnya untuk mencoba snow bike, hihihi jadi trendsetter ceritanya. Saya tidak terlalu lama main snow bike, karena pegel euy mendorong untuk bisa naik ketempat yg lebih tinggi. Sebetulnya ada eskalornya sih, tapi pas denger pengalaman si Tukang Dongeng yang kepukul pantatnya (maaf) dengan tali yg membawa keatas, saya mah milih mundur (kebayang sakitnya).

Setelah sekitar 2 jam main snow bike, kamipun menuju kepuncak teratas Nebelhorn Gipfel. Subhanallah... cantiknya. Saya yang awalnya takut ketinggian malah akhirnya enjoy banget motret-motret. Pengen lihat hasil foto amatiran dari saya dan si Tukang Dongeng? Mampir aja ke: Oberstdorf: Nebelhorn - Diatas Ketinggian 2224 Meter

---------
Photos: (all taken by me)
- Pegunungan Alpen dilihat dari puncak Nebelhorn (2224 Meter).
- Nebelhornbahn (cable car/mountain lift).
- Si Tukang Dongeng dan snow bike.

Read More...

Infinite

click photo for better viewing

The tree will have its leaves

green during spring and summer
red, orange, yellow or brown during autumn
nothing during winter

but

The sky will always be blue

maybe not in your part of the world

but for sure in some part of others
...sefafirdaus

---------
Picture taken at Atomium, Brussels, Belgium
Sunday, February 17th, 2008

Read More...

Saturday, March 8, 2008

Oberstdorf: Surga Olahraga Musim Dingin, Photography dan Shopaholic

Tanggal 22-24 Desember 2007 yang lalu, alhamdulillah kami (si Tukang Dongeng dan saya) bisa menikmati indahnya berlibur di Oberstdorf, kota kecil dipegunungan Alpen. Oberstdorf is a municipality and skiing and hiking town in southwest Germany, located in the Allgäu region of the Bavarian Alps (Wikipedia).

Berangkat dengan kereta 04:50 dari Winnenden ke Oberstdorf, mengharuskan kami untuk bangun jam 4 pagi dan rela berjalan dari rumah menuju stasiun dalam dekapan dinginnya udara minus 5. Dengan weekend ticket seharga 35 Euro (untuk 5 orang), kami memulai perjalanan menuju Oberstdorf. Kereta penuh dengan orang-orang yang juga ingin pergi berlibur, dan sepertinya mereka punya tujuan yang sama dengan kami yaitu Oberstdorf, bedanya mereka membawa perlengkapan olahraga musim dingin seperti snowboard dan peralatan ski.

Read more...


Ketika kami pindah kereta di central station Ulm, si Tukang Dongeng menyadari kalau handphonenya hilang. Sebetulnya kejadian ini membuat saya sedih, karena saya sempat terucap dalam hati ingin mengganti handphonenya dengan yang baru, dan saya merasa karena pikiran saya itu, diapun (handphone, bukan si Tukang Dongeng) hilang. Ya, innalillahi wa innailaihi rojiun, insha Allah handphone tsb bisa berguna ditangan orang yang menemukannya, amin. Alhamdulillah, setelah saya menelpon ke customer service O2, kami bisa mendapatkan SIM Card baru dengan nomor yang sama (kebetulan memang nomornya si Tukang Dongeng terdaftar atas nama saya), walaupun baru bisa kami ambil setelah liburan Natal nanti.

Kesedihan akan hilangnya handphone segera hilang setelah kami tiba ditempat kami menginap, Gästehaus Martina. Kami disambut dengan sangat ramah oleh pemilik guest house tersebut dan diantarkan untuk menempati kamar yang sangat bersih dan cantik dengan sistem pemanas dari bawah lantai (Bodenheizung).
Awalnya kami ingin menyambung tidur agak satu jam untuk bangun jam 10:30 dan memulai petualangan kami disana dengan mengunjungi Söllereck dan menikmati cantiknya Allgäuer Alpen, tapi demi melihat pemandangan cantik sepanjang jalan menuju guest house dan pemandangan dari balkon kamar, kami memutuskan untuk segera pergi kesana.


Keputusan untuk segera pergi ke Söllereck adalah keputusan yang sangat bijaksana, karena begitu kaki kami jejakkan disana, hanya melulu pemandangan indah (subhanallah) yang ada didepan mata. Disini kami melakukan wändern (hiking) menyelusuri indahnya pegunungan Alpen, alhamdulillah walaupun dingin, sinar matahari yang cerah membuat suasana disana menjadi sangat indah. Tak putus-putusnya kata subhanallah kami ucapkan demi melihat keindahan alam di Söllereck, betapa Maha Baik Allah memberikan alam yang begitu indah untuk dinikmati umat-Nya. Perasaan kecil dan tak berdaya mendadak kami rasakan demi melihat Kebesaran Allah disana. Subhanallah!


Nyaris setengah dari 1GB memory card kamera saya habiskan demi mengabadikan keindahan alam di Söllereck, ada rasa takut kehilangan momen indah yang saya alami disana. Berjalan diantara hutan pinus dan tumpukan salju satu meter dikanan kiri, sungguh memberikan pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan. Tangan saya sibuk menekan tombol shutter tanpa menghiraukan dinginnya udara bersuhu minus yang menembus sarung tangan yang saya pakai. Ya, saya memang bandel, si Tukang Dongeng sudah memberikan peringatan untuk membeli sarung tangan yang hangat, tapi saya memilih untuk tetap memakai sarung tangan saya yang lebih pantas disebut sebagai aksesori pemanis belaka. Alhamdulillah saya mau mengikuti sarannya untuk membeli sepatu winter dan tidak bersikukuh untuk terus memakai sepatu 4 musim Nike ACG yang sudah 4 tahun menemani saya.

Awalnya sempat terpikir untuk mencoba Söllereckbahn (cable car/mountain lifts) untuk naik ke Bergstation (1358 m) dan mengambil lebih banyak lagi foto, tapi si Tukang Dongeng menyarankan untuk naik kepuncak tertinggi dari pegunungan Alpen yang berada di Öberstdorf, Nebelhorn. Berhubung dia adalah orang yang membuat itenerary dari liburan kali ini, jadi saya sebagai peserta yang baik hanya mengikuti dan ini adalah tindakan yang tepat, karena di Nebelhorn inilah saya bisa berada diatas ketinggian 2224 m!
Sekitar 4 jam kami habiskan untuk menikmati keindahan alam di Söllereck untuk kemudian kembali ke pusat kota demi mengisi perut yang terasa sangat kosong ditengah dinginnya cuaca.

Aneka jenis restaurant yang menyuguhkan masakan khas setempat dan negara lain juga banyak tersebar di Oberstdof, kota kecil yang cantik ini. Si Tukang Dongeng yang mengerti bahwa saya tidak akan melewatkan Asia restaurant, mencoba menyembunyikan keberadaan tersebut dari saya, namun saya lebih tanggap. Akhirnya setelah lelah berjalan ditengah keindahan Alpen dan dinginnya cuaca, perut Indonesia saya dimanjakan oleh semangkok kecil Peking sweet and sour soup beserta Thai green chicken curry and sepiring nasi. Alhamdulillah, nikmatnya ;-)

Malam hari, setelah sempat beristirahat selama satu jam, kami melakukan tour mengelilingi kota. Oberstdorf, kota turis dipegunungan Alpen bukan saja merupakan surga bagi para penggemar olahraga musim dingin dan hiking, tapi juga surga bagi para pencinta belanja, terutama penggemar perlengkapan olahraga dan barang bermerek lainnya. Toko-toko tersebut tersebar diseluruh penjuru kota memanjakan mata namun membahayakan kantong mahasiswa seperti kami. Barang-barang untuk keperluan olahraga musim dingin tersedia dihampir semua toko yang ada dan tentunya dengan harga yang membuat tarikan nafas panjang. Ah, kota ini benar-benar ditujukan untuk para turis berkantung tebal, bukan mahasiswa dengan uang pas-pasan seperti kami :-)

Nebelhorn, Fellhorn and Söllereck: the very sound of these three names makes skiing fans’ mouths water. And that’s no wonder considering the 44,000 metres of downhill slopes (30,000 metres of which are virtually snow-safe), 29 different lifts, numerous cosy mountain lodges to stop and have a snack and powder snow and sun until you’re ready to drop ... and last, but not least, there are any amount of interesting all-inclusive bargains. Who could resist the temptation? - www.skiinfo.com

Bersambung...

Photos: (all taken by me unless stated)
- Oberstdorf dan si Tukang Dongeng yang nyaris tidak kelihatan.
- Sony Ericsson K750i - courtesy of sonyericssondotcom.
- Kamar kami selama di Oberstdorf dan si Tukang Dongeng yang sedang membaca peta.
- Oberstdorf diambil dari Söllereck.
- Para pencinta olahraga musim dingin at Söllereck.
- Asia restaurant dan si Tukang Dongeng yang sedang mengecek harga.
- Jack Wolfskin - salah satu dari beberapa toko alat-alat olahraga di Oberstdof.

See more pictures:
Oberstdorf: Söllereck - Indahnya Algäuer Alpen
Oberstdorf: Nebelhorn - Diatas Ketinggian 2224 Meter

Read More...

Menunggu

click photo for better viewing

Aku disini tanpamu
ditemani sepinya ranting musim dingin
yang kehilangan warna-warni daunnya sebelum gugur

Aku disini menunggumu
seperti ranting-ranting itu
yang menunggu hijaunya daun musim semi

Aku disini menunggumu
selalu
...sefafirdaus

---------
Picture taken at The Entrance of Rhododendron Park and ‘botanika’, Bremen, Germany
Tuesday, February 5th, 2008
First appeared in album: Bremen: When I'm Feeling Blue.

Read More...

Patah Hati di Negeri Dongeng

Akhir-akhir ini saya selalu dihantui oleh peristiwa meninggalnya seorang teman disini. Bukan takut almarhum datang sebagai hantu, tapi dihantui atau lebih tepatnya dibayang-bayangi proses kematiannya. Saya tidak bisa menghentikan adegan bagaimana dia meninggal dalam pikiran saya. Entahlah, saya tidak terlalu dekat dengan dia, tapi sampai sekarang rasanya tidak percaya bahwa dia sudah tidak ada dengan cara menghentikan sendiri hidupnya atau bunuh diri.

Patah hati adalah awal dari segalanya, awal dari kematian yang direncanakan olehnya. Ah... sampai saat saya menulis inipun, saya tidak habis berpikir dan bertanya "why oh why". Apakah sebesar itu kekuatan patah hati sehingga sanggup membuatnya membunuh dirinya sendiri?
Dulu saya pernah menulis tentang patah hati yang menyebabkan seorang kawan memutuskan untuk tinggal selamanya disini, dinegeri dongeng yang indah ini. Cerita yang membuat seseorang penulis yang sedang menyusun buku tentang putus cinta meminta saran-saran mengatasi putus cinta dari saya, namun bukan cerita yang memuat akhir tragis dari sebuah hati yang patah.

Read more...

Cara jitu? Ah andai saja dia punya cara jitu untuk mengobati hatinya yang patah, pastilah saat ini dia masih ada diantara kami, bercanda tertawa bersama dan sedang dalam keadaan hectic karena ujian semester semakin dekat. Andai dan andai, mengapa dan mengapa, itu-itu saja yang memenuhi pikiran saya akhir-akhir ini.


Semua orang sepertinya pernah mengalami sakitnya patah hati. Beragam tindakan yang dilakukan oleh mereka disaat hati yang patah begitu sakit, dari mulai curhat pada sahabat terdekat, jalan-jalan mencari suasana baru, pindah kota bahkan negara, mengganti penampilan seperti potong rambut, sampai langsung mencari pacar baru. Semua hal tsb dilakukan sampai sang waktu menyembuhkan luka dihati yang patah. Ya, waktu akan menyembuhkan semuanya, hanya dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan kita menghadapi proses penyembuhan yang pastinya sangat tidak nyaman tsb.

Patah hati... nanti juga sembuh kok. Itu tulisan singkat seorang kontak Multipy saya yang penuh dengan semangat. Ya, tidak ada luka yang tidak akan sembuh apabila kita berusaha untuk menyembuhkannya, bukan membuatnya larut menjadi luka yang semakin parah dan mengakhiri luka tsb dengan sebuah kematian yang kita tentukan sendiri.

Dulu pernah terlintas dipikiran saya untuk meminta Allah mengambil nyawa saya saja disaat putus cinta setelah bertahun-tahun menjalin hubungan. Tapi alhamdulillah, saya tidak pernah berani untuk bunuh diri, karena maut itu hak mutlak dari Allah dan saya tidak mau menjadi sesat karenanya. Saat putus cinta tsb saya sudah berada dinegeri dongeng ini, jauh dari keluarga dan pelukan hangat Bunda yang selalu mampu menyembuhkan segala luka. Jauh dari cinta kasih para sahabat yang selalu ada disaat saya jatuh. Lalu apa yang saya lakukan?

Boleh dibilang saya ini cenderung masokis, senang menyakiti diri sendiri disaat patah hati. Tapi it worked for my broken heart. Saya nikmati setiap darah yang menetes dari hati saya yang patah. Saya pandangi semua kenangan indah yang pernah kami lewati bersama, saya datangi tempat-tempat yang penuh dengan kenangan. Berdarah, menangis, itu yang saya lakukan sampai rasa sakit itu sudah tidak terasa lagi dan saya bisa ikhlas melupakan semuanya.

Menjadi masokis, lari dari kenyataan, pindah kota/negara, balas dendam atau apapun itu yang akan dilakukan agar bisa mengobati sakitnya patah hati, adalah pilihan yang bisa dilakukan oleh those who have broken heart. But please, dont choose to kill yourself by committing suicide. Percayalah, waktu akan menyembuhkan rasa sakit itu walau mungkin memakan waktu yang tidak sebentar, tapi waktu benar-benar akan menyembuhkan. Kesabaran dan keikhlasan adalah penolong dimasa penyembuhan tsb. Patah hati adalah salah satu proses pendewasaan diri (at least for me).

Growing pains!

---------
Image from: www.google.de:
- Broken Heart, from www.antithesiscommon.com (keyword:
"broken heart").
- Bandaid, from http://groovetheory.home.comcast.net (keyword:
"broken heart").
- A man that can symbolize the desperation and hopelessness felt in depression by Vincent van Gogh, from www.answers.com (keyword:
"committed suicide")

Read More...