Thursday, May 1, 2008

Doha: Delayed Membawa Nikmat

11 Maret 2006, hari itu saya masak sate padang perdana untuk acara ulang tahunnya ayah teman saya (pssttt... sate padang perdana tsb dipuji loh oleh ayah dan ibunya teman saya tsb dan tentunya sama teman-teman lain yg makan *pede mode: default*). Orang tua teman saya ini tinggalnya di Doha, Qatar dan akan kembali kesana keesokan harinya. Mereka yang tahu bahwa saya akan transit di Doha dalam perjalanan pulang ke Indonesia dengan Qatar Airways menawarkan diri untuk menemani jalan-jalan bila transit lebih dari 8 jam. Sayang sekali, saya hanya akan transit selama 1 jam, padahal sptnya asik kalau bisa mampir di Doha.

Read more...

13 Maret 2006, pesawat Qatar Airways yang seharusnya take off ternyata harus menunggu karena ada kerusakan. Saya langsung gelisah begitu pesawat tertunda terbang selama 30 menit, bukan apa-apa... kalau begini caranya, saya bakalan ketinggalan pesawat ke Singapore. Pramugari yang saya tanya bilang begini:

"Biasanya kalau telat 1 jam sih masih ditungguin kok"

Waks! Apa!! Biasanya???!!! Artinya memang sering dong ya ini pesawat delay, batin saya.

Akhirnya 4 jam saya harus menunggu didalam pesawat di Frankfurt (M) International Airport. Pesawat baru boleh terbang setelah mendapat persetujuan dari teknisi bandara. Artinya: saya ketinggalan pesawat ke Singapore!
Bai bai :(


Sampai di Doha Airport, saya dan beberapa orang penumpang transit yang lain sudah ditunggu oleh Customer Service-nya QA. Setelah mereka memberikan saya dokumen untuk akomodasi dan ijin untuk bisa masuk Qatar, saya-pun mengantri untuk mendapatkan visa. Alhamdulillah, dapat visa walaupun hanya 24 jam dan mereka men-cap visa tsb dihalaman tengah. Duh! Passpor baru kaliiiiiiii, wakakakaka.

Kasihan sebetulnya jadi orang Indonesia. Kenapa? Karena dinegara-negara Timur Tengah seperti Qatar ini, tatapan mata merendahkan ah-kamu-tekawe itu sering banget kita dapatkan. Termasuk waktu saya apply visa 24 jam tsb. Kampret!
Dua petugas laki-laki Arab didepan saya asik membolak-balik passport saya dan memandang saya dengan pandangan gimana-gitu-minta-ditampar plus kasak-kusuk dalam bahasanya. Langsung dong saya mendidih, tapi tetap elegan tentunya, hihihihi.

"Ana afham Arabi" (I understand Arabic)

Duar!!! Muka mereka langsung kaget gitu, apalagi waktu saya bilang bahwa kekasih hati saya orang Arab. Trus berhubung saya memang baru bisa ngomong Arab yang standar, saya sambung pake Jerman. Eh mereka gak ngerti, ya udah pake bahasa Inggris deh.

Saya memang selalu begitu ngomong pake bahasa Jerman, bukan sok atau menganggap rendah para pahlawan devisa (yang katanya pahlawan tapi tidak pernah dihargai oleh pemerintahnya apalagi diberi tanda jasa) sehingga tidak mau dianggap sbg salah satu dari mereka, tapi semata-mata biar orang-orang asing tsb tahu, bahwa orang Indonesia itu bukan cuma para te-ka-we atau te-ka-i. Buktinya sikap mereka berubah setelah tahu saya ini adalah mahasiswa di Jerman dan pastinya ngeri juga karena tahu bahwa suami saya (waktu itu masih pacar) adalah orang Irak, sehingga mereka memilih utk damai, wakakakaka.

Alhamdulillah, keberuntungan berpihak pada saya, karena saya mendapat kamar dengan tipe Junior Suite di Grand Regency Doha dengan rate 1800R Qatar (650€, kurs hari itu). Seneng banget.. at least penderitaan mengatur ulang jadwal di Indonesia terobati dengan fasilitas hotel yang luar biasa. Langsung dong foto-foto gak jelas *norak*

Waktu lagi asik leyeh-leyeh, saya teringat tawaran dari orang tuanya teman saya. Langsung saya telpon untuk menagih janji. Sayangnya beliau sedang kena flu jadi tidak bisa menemani saya jalan-jalan, tapi berhubung beliau sudah janji... diutuslah temannya untuk menggantikan beliau.

Temannya ibu teman saya itu datang bersama putrinya yang cantik. Awalnya mereka bingung melihat saya hanya memakai kaus saja, karena masih musim dingin disana dengan suhu 18°C. Tapi akhirnya mereka tertawa maklum, mengingat saya datang dari negara dimana suhu 18°C adalah foya-foya. Hangat!
Merekapun mengajak saya berkeliling dan mampir ke City Center Doha (mall gitu deh) dan mentraktir saya makan di KFC (saya memang menolak untuk makan makanan Arab, porsinya itu loh... lagian saya bakalan makan malam di hotel, jadi kalo skg kenyang.. rugi dong, hihihi). Mereka juga sempat mengajak saya menikmati indahnya pantai di Doha (bukan dipantainya persis sih, tapi pemandangannya keren). Saya sempat memotret maskot Asian Games 2006 yang namanya Orry (a Qatary Oryx).

Doha menurut saya menarik untuk dijadikan tempat berlibur, kotanya cantik apalagi waktu saya kesana tahun 2006 lalu tsb mereka sedang membangun. Hanya tidak disarankan untuk berlibur disaat musim panas, karena waktu saya kembali dari Indonesia menuju Jerman, saya diterpa oleh badai panas dengan suhu 43°C.

Passport saya kembali mengalami menyetempelan (maksudnya distempel aka dicap) dari belakang oleh petugas imigrasi dibandara. Berhubung passport negara-negara Arab itu dibukanya dari kanan, jadi dengan sukses ibu-ibu petugasnya mencap passport tsb dari bagian belakang. Ihiks! Itu paspor baru ibuuuuuuuuuu, wakakakakaka.

Oya, kalau melakukan perjalanan jauh dengan pesawat dan harus transit, jangan lupa bawa pakaian ekstra (including pakaian dalam), handuk kecil dan sikat gigi didalam cabin luggage. Just in case delay dan harus menginap, kita sudah siap. Cairan dan sejenisnya jangan lupa ditaruh dalam plastik transparan, dan ingat... satu botolnya tidak boleh lebih dari 100ml dan total yg diijinkan adalah 1liter.
Ingat ya: 1 kemasan itu 100ml, jadi kalo bawa perfume 150ml, alamat dibuang!

----------
Photos: (all taken by me)
- Gedung-gedung tinggi sepanjang pantai.
- Interior City Center Doha.
- Kamar tidur saya di Grand Regency Doha.
- Orry, mascot Asian Games 2006

Foto-foto lain bisa dilihat di: Doha - Qatar, Maret 2006

1 comment:

  1. wah, mangstabh nih mbak... hehe

    owh, suaminya orang iraq ya?

    ReplyDelete