Saturday, April 26, 2008

Dan Si Cantikpun Menangis

Tulisan ini pernah dimuat disini.

Weekend kemarin saya punya pengalaman yang menyenangkan.

Ceritanya begini, dalam perjalanan pulang sehabis membanting tulang dan lari-lari mengejar kereta sambil membawa sekardus Indomie (ternyata keretanya telat 25 menit), saya duduk terkapar tidak berdaya didalam kereta Bremen-Bremerhaven. Karena keterlambatan, jadilah kereta yang berhenti ditiap stasiun itu penuh sehingga saya harus berbagi tempat duduk dengan orang lain. Setelah dua halte, dua orang lelaki berumur yang duduk bersama saya turun dari kereta, tapi baru saja saya ingin menarik nafas lega dan mulai mengatur posisi untuk mencoba tidur, datanglah penumpang baru. Sepasang suami istri dan bayi kecil mereka memutuskan untuk duduk bersama saya. Sang suami memilih untuk duduk disebelah saya, sementara si istri dan si kecil duduk dihadapan saya.

Read more...

Sebenarnya saya sih bisa saja untuk mencoba tidur, tapi si kecil bermata kelabu sangat menggoda perhatiaan saya. Namanya Alisa (orang tuanya memanggil begitu), dia tidak melepaskan pandangannya ke wajah saya bahkan mencoba untuk berbicara kepada saya (tentunya dengan bahasa bayi yang sangat lucu). Saya sih ingin sekali menegur dan mengajaknya bermain, tapi melihat raut wajah si ibu yang terlihat tidak begitu ramah, saya mengurungkan niat dan mencoba untuk tidur (demi melupakan mata cantik dari bayi yang lucu tersebut). Oya sebelum lupa, Alisa bukanlah bayi yang masih kecil, tapi batita.. saya kira umurnya sudah satu tahun.

Usaha saya untuk berpura-pura acuh terhadap si cantik didepan saya sia-sia, karena Alisa memanggil-manggil saya dengan suaranya yang lucu dan bahasa yang tidak ada dikamus manapun. Dia memajukan badannya dan menyorongkan jari-nya seolah ingin menyentuh saya dan berkata:

"Tante, jangan tidur dong... aku ingin bercerita".

Sayapun membatalkan niat untuk tidur dan mulai memberikan perhatian penuh pada Alisa yang sibuk mengoceh dengan mimik wajah yang sangat menggemaskan. Sayapun menanggapi ceritanya dengan berkata-kata tanpa suara dan membuat mimik wajah yang antusias sambil terkadang mengedipkan mata menggodanya. Alisa selalu mengikuti gerakan saya sambil terus bercerita dalam bahasanya. Waktu saya miringkan kepala saya ke kanan, dia ikut memiringkan kepalanya ke kiri (searah dengan saya). Ugh! sangat menggemaskan. Ah, andai saja orang tuanya ramah... ingin rasanya memeluk Alisa dalam pangkuan saya sambil mendengarkan ceritanya. Sedihnya cerita Alisa harus terputus karena orang tuanya memutuskan untuk pindah ke bangku lain.

Tak lama setelah mereka pindah, keretapun memasuki stasiun Bremerhaven. Sayapun bersiap untuk turun dan berjalan menuju pintu gerbong. Waktu saya berjalan melintasi bangku dimana Alisa dan orang tuanya berada, Alisa langsung berteriak melihat saya, dan kembali mengoceh sambil matanya mengiringi kepergian saya. Dari balik kaca pintu gerbong, saya berkomunikasi dengan Alisa dalam mimik wajah dan lambaian tangan. Alisa membalas lambaian tangan saya dan tertawa dengan bahagianya. Namun tawanya terhenti waktu kereta berhenti dan saya melangkah turun dari kereta, yang saya dengar hanyalah tangisan kerasnya.

Ahhh... ingin rasanya saya kembali untuk menghapus air mata dari wajah cantiknya dan untuk kemudian memeluknya sambil berkata:

"Terimakasih sayang untuk cerita yang indah".

Regional Bahn Bremen - Bremerhaven, 18.11.07

Foto koleksi pribadi (taken by me): Bidadari-bidadari kecilku (Ai, Abe, Sarah, Dinda) - Ice World Indonesia 2006.

0 comments:

Post a Comment