Wednesday, April 2, 2008

Mel dan Mer

Mel gelisah. Tak putus-putus dipandanginya jam yang melingkar dipergelangan tangan kanannya. Ahhhh... sudah lewat dari 30 menit, tidak biasanya Mer datang terlambat. Hatinya gelisah.

"Aku bosan Mel. Jenuh"
tiba-tiba Mel teringat kata-kata Mer tadi malam lewat telpon. Kata-kata itu sudah lebih dari ratusan kali Mel dengar sebulan terakhir ini. Kata-kata yang kemudian membuatnya melangkah menuju apartemen Mer yang memang tidak jauh dari tempatnya menunggu. Hatinya bertambah gelisah.

Read more...


Entah mengapa, hatinya melarang Mel untuk memencet bel apartemen Mer. Dipakainya kunci yang diberikan Mer tiga bulan lalu disaat usia hubungan mereka berjalan enam bulan. Perlahan ditekannya gagang pintu untuk kemudian melangkah tak kalah pelannya.

Diruang tamu dilihatnya ada secangkir teh yang baru setengah diteguk pemiliknya. Hmm, apa ini yang membuat Mer datang terlambat? Seorang tamu yang tak diduga sebelumnya, karena janji untuk bertemu hari ini adalah murni keinginan Mer.

Dengan nafas yang menderu dan jantung yang berdegup kencang, Mel melangkahkan kakinya menuju kamar tidur Mer. Hatinya semakin gelisah.

Pintu kamar Mer tak tertutup rapat, Mel membukanya perlahan. Belum lagi sempurna pintu itu terbuka, Mel sudah bisa melihat semuanya. Badannya gemetar, nafasnya seolah terhenti, hatinya sakit. Disana, disisi tempat tidur, Mer sedang berada dalam pelukan seseorang.

Hatinya hancur. Ditinggalkanya apartemen itu dalam sejuta kesedihan. Bayangan Mer dalam pelukan orang tersebut seakan tak mau lepas dari ingatannya.

Ya, aku tak pernah bisa mengalahkan orang itu. Lelaki yang selalu ada dihati Mer, lelaki pertama dalam hidup Mer.

0 comments:

Post a Comment